Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus meningkatkan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan harga pangan menjelang Isra Mikraj dan perayaan Tahun Baru Imlek 2026.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Momen hari besar keagamaan tersebut diperkirakan akan mendorong peningkatan konsumsi masyarakat, terutama pada komoditas pangan strategis seperti cabai, bawang merah dan daging ayam ras.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan inflasi Sumsel pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,49 persen secara bulanan atau month to month (mtm) dengan inflasi tahunan mencapai 2,91 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Meski masih dalam batas sasaran nasional, tekanan harga diproyeksikan meningkat seiring permintaan menjelang hari besar.
“Sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi, di antaranya emas perhiasan, bawang merah, daging ayam, cabai rawit dan cabai merah,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan, Bambang Pramono, Sabtu (10/1/2026).
Menurut Bambang, kenaikan harga komoditas hortikultura dipicu oleh gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem, sementara konsumsi daging ayam meningkat sejak periode Natal dan Tahun Baru.
“Faktor permintaan dan kondisi cuaca dengan curah hujan tinggi hingga Februari 2026 serta dampak sisa banjir di beberapa wilayah di Sumatera berpotensi menghambat distribusi pangan,” ujarnya.
Hal ini membuat TPID Sumsel memperkuat langkah antisipasi agar ketersediaan pasokan tetap terjaga. Untuk menekan potensi lonjakan harga TPID Sumsel mengintensifkan berbagai program stabilisasi, mulai dari operasi pasar murah, gerakan pangan murah hingga distribusi beras SPHP bersama Perum Bulog.
“Hingga akhir Desember tercatat sudah 542 operasi pasar di gelar di seluruh Kabupaten dan Kota di Sumsel,” ujarnya.
Ditambahkan Bambang, melalui berbagai langkah yang dilakukan ini pemerintah daerah optimis inflasi tetap terkendali meski tekanan konsumsi meningkat menjelang Imlek dan Isra Mikraj.
“Ke depan, sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan distributor akan terus diperkuat untuk menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, serta stabilitas ekonomi di Sumatera Selatan,” pungkasnya.







