Sejak awal tahun 2026, sebanyak empat warga di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Bahkan satu orang sudah dinyatakan meninggal dunia.
Diketahui warga meninggal tersebut adalah Bilqis Dwi Ufaira yang baru berusia 11 tahun. Warga Kelurahan Puncak Kemuning, Kecamatan Lubuklinggau Utara tersebut terdampak DBD sejak Jumat (2/1/2026) dan sempat dirawat di Rumah Sakit Siti Aisyah Lubuklinggau.
Setelah menjalani perawatan intensif, akhirnya Bilqis dinyatakan meninggal dunia pada Kamis (8/1/2026) malam hari.
Kabid P2P Dinkes Lubuklinggau, Lena Agutina membenarkan informasi tersebut. Ia mengatakan sejak awal tahun 2026, sudah ada empat kasus DBD.
“Dari awal tahun ini sudah ada 4 kasus DBD yakni dua di Ulak Surung (Puskesmas Megang), satu di Ulak Lebar (Puskesmas Sidorejo), dan satu di Simpang Periuk. Sementara sepanjang 2025 kemarin, terdata ada sebanyak 373 pasien DBD di Kota Lubuklinggau,” katanya, Sabtu (10/1/2026).
Lena mengungkapkan pasien DBD yang dinyatakan meninggal dunia yakni Bilqis merupakan pasien yang terdata di Puskesmas Megang.
“Pasien yang dilaporkan meninggal dunia akibat DBD kemarin dari Puskesmas Megang. Sudah dilaporkan dan pihak Puskesmas Megang ikut turun melakukan kunjungan ke rumah duka,” ungkapnya.
“Nantinya mereka akan melakukan investigasi dan kembali ditindaklanjuti. Namun untuk laporan yang masuk dan keterangan keluarga, pasien meninggal karena DBD,” sambungnya.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Dikarenakan terjadi peningkatan di awal tahun 2026 tersebut, Lena mengatakan pihaknya akan segera menindaklanjuti hal tersebut dengan melakukan pencegahan seperti fogging di rumah warga serta tempat-tempat yang rawan akan berkembangnya nyamuk DBD (Aedes aegypti).
“Namun bukan hanya fogging saja karena itu tidak efektif. Fogging ini hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara telur nyamuk tidak mati, bahkan ada juga sebagian nyamuk yang hanya pingsan. Maka dari itu, kita gencarkan lagi edukasi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M plus akan kesadaran warga semakin meningkat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan jenis nyamuk DBD bertelur ditempat yang bersih seperti bak air bersih, pot bunga, atau air di bekas botol yang airnya bening.
“Contohnya masyarakat ini juga sering salah kaprah seperti uget-uget yang ada di bak air itu dikira cacing kecil, padahal itulah jentik nyamuk. Makanya edukasi seperti ini harus dipahami oleh semua masyarakat,” ujarnya.
Lena juga menjelaskan kebanyakan nyamuk DBD cenderung menyerang di pagi hari sehingga kebanyakan yang terkena adalah anak-anak sekolah.
“Gejala DBD ini hampir sama kayak tipes atau demam biasa, yang membedakan itu tidak disertai batuk pilek dan keluhan lainnya. Biasanya tiga hari demam tinggi dan hari keempat seperti mau sembuh, tapi di situlah fase kritisnya. Untuk itu selalu kita imbau ke masyarakat, jika anak demam tinggi tanpa keluhan itu harus cepat periksa, minimal ke puskesmas terdekat,” imbaunya.







