Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 7 Palembang menjadi pilot project (proyek percontohan) nasional di bawah naungan Kementerian Sosial. Sekolah ini hadir untuk menjamin anak-anak dari keluarga prasejahtera mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi tanpa kendala biaya sedikit pun.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Peluncuran sekolah yang berlokasi di Sentra Budi Perkasa ini menjadi tonggak penting karena mengadopsi sistem sekolah terpadu berasrama. Seluruh kebutuhan hidup siswa, mulai dari tempat tinggal, asupan gizi, hingga fasilitas teknologi digital, ditanggung sepenuhnya oleh negara melalui dukungan langsung Presiden RI dan kementerian terkait.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Gito Rusdianto, menjelaskan bahwa kesiapan fasilitas menjadi prioritas utama sejak hari pertama peluncuran. Untuk mendukung digitalisasi pembelajaran, pihak sekolah telah mulai mendistribusikan laptop dan smartphone kepada para siswa.
“Saat ini sudah ada 93 laptop yang dibagikan dari total 97 siswa, dan sisanya akan segera terpenuhi. Selain itu, siswa juga mendapatkan delapan jenis seragam dan konsumsi lima kali sehari yang gizi dan kebersihannya dikontrol ketat oleh juru masak profesional,” jelas Gito, Senin (12/1/2026).
Gito menyebut, sejak operasional dimulai, sekolah ini menerapkan pendekatan unik dalam Kurikulum Merdeka. Selama tiga bulan pertama, siswa tidak langsung dihadapkan pada materi akademik, melainkan menjalani masa orientasi dan pengembangan karakter.
“Kami ingin membentuk karakter mereka terlebih dahulu selama tiga bulan. Setelah pondasi mentalnya kuat, baru kami masuk ke pembelajaran materi sekolah umum. Saat ini, siswa sudah memasuki bulan keenam dan mulai menunjukkan prestasi di bidang karate serta akademik tingkat provinsi,” tambahnya.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Selatan, Achmad Tarmizi, menegaskan bahwa ketepatan sasaran menjadi kunci keberhasilan sekolah rakyat ini. Proses rekrutmen tidak dilakukan secara terbuka oleh sekolah, melainkan melalui seleksi ketat dan verifikasi faktual oleh Kementerian Sosial.
“Petugas mendatangi satu per satu rumah calon siswa untuk memastikan mereka benar-benar berasal dari keluarga yang kurang sejahtera. Kami berharap mereka menjadi generasi penerus yang bisa mengangkat harapan orang tua dan membangun negeri, sesuai dengan visi yang sering disampaikan Pak Prabowo,” ujar Tarmizi.
Untuk menjaga kedisiplinan dan fokus belajar, para siswa tinggal di asrama dengan pengawasan wali asrama. Namun, hubungan dengan keluarga tetap terjaga melalui sistem “pesiar” (pulang ke rumah) satu kali dalam sebulan, serta jadwal kunjungan orang tua setiap dua minggu sekali.
“Harapan kami sederhana namun mendalam: teruslah bermimpi. Karena mimpi itulah yang akan menjadi bahan bakar para siswa untuk tetap semangat mengubah nasib mereka,” tutup Gito.
Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.







