Runtuhnya Kejayaan Sriwijaya FC, Kini Terancam ke Liga 3

Posted on

Klub kebanggaan warga Sumatera Selatan terancam ke Liga 3 ata Nusantara. Hal itu menyusul hasil buruk Laskar Wong Kito di Championship 2025/2026 yang saat ini berada di juru kunci Grup 1 Wilayah Barat.

Saat ini Sriwijaya FC baru meraih dua poin dari hasil dau kali imbang, 13 kalah dan belum sekalipun menang. Dengan hasil ini, membuat kejayaan Sriwijaya FC pun runtuh dengan sejumlah prestasi yang sebelumnya pernah diraih yakni double winner pada musim 2007/2008 dan tiga kali berturut menjadi juara Piala Indonesia edisi 2007 hingga 2010.

Bahkan, saat ini kondisi Elang Andalas kian mengkhawatirkan, terlebih sejumlah pemain memilih keluar dari skuad. Kini jumlah pemain yang bertahan hanya 15 orang. Padahal, di awal kompetisi 30 lebih pemain siap bertarung di kompetisi liga.

Pengamat Sepakbola Sumatera Selatan Profesor Iyakrus menilai kondisi klub yang bermarkas di Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ), Palembang kian memprihatinkan. Banyak yang kecewa karena peraih double winner 2007/2008 ini terancam turun kasta.

“Sebagai warga Palembang yang cinta Sriwijaya FC, tentu kita prihatin, sedih, kecewa dengan prestasi saat ini. Menurut saya ada beberapa hal penyebabnya antara lain karena tata kelola manajemen yang kurang tepat dalam menggalang sponsorship dan ketidakprofesionalan manajemen dalam menangani tim,” ujarnya, Senin (12/1/2026).

Guru Besar Unsri ini menilai, sejak awal materi pemain Laskar Wong Kito seadanya karena persoalan finansial. Sehingga, pemain yang menjadi skuad Sriwijaya FC tak bisa bersaing di kompetisi.

“Akibatnya materi pemain yang ada seadanya, sehingga dengan anggaran terbatas sulit mencari pemain berkualitas,” terangnya.

Dia menyarankan agar manajemen Sriwijaya FC menyelamatkan klub dengan berlapang dada menyerahkan pengelolaan klub kepada yang mampu. Baik mampu secara finansial maupun teknis.

“Jika manajemen masih bersikeras untuk tetap menukangi klub, maka kita rakyat Sumsel, khususnya Palembang, bersiaplah untuk menerima kenyataan klub turun-temurun tahta ini bermain di Liga 3,” jelasnya.

“Kesimpulannya adalah fenomena kondisi Sriwijaya FC saat ini adalah karena ketidakmampuan manajemen. Untuk itu sebaiknya manajemen klub berlapang dada menyerah kan ke yang mampu,” sambungnya.

Hal senada dikatakan pengamat lainnya Bambang Supriyanto yang juga mengaku sedih karena hingga kini belum memperoleh hasil maksimal atau kemenangan sejak musim kompetisi 2025/2026 digelar.

“Sedih ya, memang kalau melihat kondisi Sriwijaya FC saat ini, hingga info ini, mulai dari musim kompetisi 2025/2026 dimulai belum pernah sekalipun merasakan kemenangan,” ujar eks Dirut Jakabaring Sport City ini 2018.

Dia menilai, banyak hal yang menjadikan performa Elang Andalas tak maksimal seperti saat ini. Namun, utamanya adalah masalah finansial.

“Yang berakibat pada semua program persiapan menjadi tidak optimal, termasuk masalah perekrutan pemain, pemilihan tempat latihan, mess pemain, fasilitas latihan hingga masalah asupan pemain,” ujarnya.

Menurutnya, semua persoalan itu adalah kebutuhan dasar suatu tim yang harus benar-benar diperhatikan.

“Setelah itu semua terpenuhi, barulah persiapan teknis dan taktis tim bisa dijalankan dengan baik oleh pelatih. Intinya kesiapan finansial adalah kebutuhan dasar suatu tim,” terangnya.