Keberadaan tikus di dalam rumah bukan sekadar masalah estetika atau kenyamanan semata. Hewan pengerat ini merupakan salah satu vektor pembawa penyakit yang ditularkan tikus dan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Dikutip dari Populasi Tikus dan Pengetahuan Masyarakat Tentang Tikus dan Penyakit yang Ditularkannya di Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman oleh Nova Pramestuti, Dkk., sifat tikus yang adaptif membuat hewan ini mampu bertahan hidup di berbagai kondisi lingkungan, selama terdapat sumber makanan dan tempat berlindung.
Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, tikus telah lama diidentifikasi sebagai ancaman serius dalam penyebaran penyakit yang ditularkan tikus, mulai dari bakteri, virus, hingga parasit.
Dikutip dari Dinas Kesehatan, upaya pengendalian tikus dan pencegahan penyakit leptospirosis sangat bergantung pada sanitasi lingkungan dan perilaku individu.
Seperti selalu mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di luar rumah atau membersihkan area yang diduga menjadi tempat perlintasan tikus.
Tikus termasuk dalam kategori hama pemukiman yang paling sulit dikendalikan. Kehadiran tikus sering kali tidak disadari pada awalnya karena sifat mereka yang nokturnal atau aktif di malam hari.
Namun, jejak kaki, kotoran, hingga bau urine yang menyengat biasanya menjadi pertanda jelas bahwa hunian telah terserang hama ini.
Tidak semua tikus memiliki kebiasaan yang sama. Di lingkungan perumahan, terdapat beberapa jenis tikus yang paling sering dijumpai:
Dampak dari investasi tikus di rumah mencakup kerugian material dan risiko kesehatan. Dari sisi material, tikus memiliki kebiasaan mengerat benda-benda keras karena pertumbuhan gigi serinya yang terus-menerus.
Tikus berperan sebagai inang bagi berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Infeksi dapat terjadi melalui kontak langsung dengan urine, kotoran, air liur, atau melalui gigitan kutu yang menempel pada tubuh tikus.
Ini adalah penyakit yang paling sering dikaitkan dengan tikus, terutama saat musim banjir. Bakteri Leptospira keluar bersama urine tikus dan mencemari air atau tanah.
Manusia dapat terinfeksi jika air yang tercemar mengenai luka terbuka atau selaput leindir. Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, leptospirosis ditularkan melalui kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira.
Meski terdengar seperti penyakit kuno, Pes masih menjadi perhatian di beberapa wilayah. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang ditularkan melalui gigitan pinjal (kutu) yang hidup pada bulu tikus.
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang ditemukan dalam urine dan kotoran tikus. Manusia dapat tertular jika menghirup debu yang telah terkontaminasi oleh partikel kotoran tikus yang mengering.
Gejala awalnya mirip dengan flu, namun dapat berkembang menjadi gagal napas yang fatal.
Bakteri Salmonella sering kali dibawa oleh tikus dan berpindah ke makanan manusia melalui kontak fisik atau kotoran.
Mengonsumsi makanan yang telah dihinggapi atau dilewati tikus dapat menyebabkan keracunan makanan yang parah, diare, dan kram perut.
Sesuai namanya, penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang masuk ke tubuh manusia melalui gigitan atau cakaran tikus. Gejala yang muncul meliputi demam, muntah, nyeri otot, dan munculnya ruam pada kulit.
Mencegah masuknya tikus jauh lebih efektif daripada mencoba membasminya setelah populasi mereka berkembang pesat. Ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan oleh setiap penghuni rumah untuk meminimalkan risiko serangan hama ini.
Tikus memiliki tubuh yang fleksibel dan mampu masuk melalui celah yang sangat kecil (seukuran uang koin). Pastikan untuk menutup retakan pada dinding, celah di bawah pintu, serta memasang kawat kasa pada lubang ventilasi dan saluran air.
Pastikan semua bahan makanan disimpan dalam wadah tertutup yang rapat (toples kaca atau plastik keras). Jangan meninggalkan piring kotor di wastafel dalam waktu lama dan selalu tutup tempat sampah dengan rapat.
Pembersihan sisa makanan hewan peliharaan juga harus menjadi perhatian agar tidak mengundang tikus datang ke area rumah.
Barang-barang bekas yang menumpuk di gudang atau sudut ruangan sering kali dijadikan sarang oleh tikus. Lakukan pembersihan secara berkala (minimal sebulan sekali) untuk memastikan tidak ada ruang bagi tikus untuk berkembang biak.
Pemangkasan tanaman atau dahan pohon yang menyentuh atap rumah juga penting dilakukan agar tikus atap tidak memiliki jalur akses masuk.
Jika sudah ditemukan tanda-tanda keberadaan tikus, penggunaan perangkap mekanis (perangkap jepit atau lem) lebih disarankan daripada racun tikus di dalam ruangan.
Penggunaan racun berisiko membuat tikus mati di tempat yang sulit dijangkau, sehingga menimbulkan bau bangkai yang mengganggu kesehatan lingkungan.
Menjaga kebersihan tidak hanya terbatas di dalam rumah, tetapi juga lingkungan sekitar. Selokan yang tersumbat dan tumpukan sampah liar di depan rumah merupakan habitat ideal bagi tikus got.
Kesadaran akan bahaya penyakit yang ditularkan tikus harus ditingkatkan. Dengan meahami jenis, kerugian, serta cara pencegahannya, risiko penularan penyakit mematikan dapat ditekan seminimal mungkin.
Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama
Jenis Tikus Hama Rumah
Penyakit-penyakit yang Ditimbulkan Tikus Rumahan
1. Leptospirosis
2. Pes (Plague)
3. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)
4. Salmonellosis
5. Rat-Bite Fever (Demam Gigitan Tikus)
Upaya Pencegahan Sederhana di Rumah
1. Menutup Akses Masuk
2. Manajemen Sampah dan Sisa Makanan
3. Menghilangkan Tempat Persembunyian
4. Penggunaan Alat Perangkap
Mencegah masuknya tikus jauh lebih efektif daripada mencoba membasminya setelah populasi mereka berkembang pesat. Ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan oleh setiap penghuni rumah untuk meminimalkan risiko serangan hama ini.
Tikus memiliki tubuh yang fleksibel dan mampu masuk melalui celah yang sangat kecil (seukuran uang koin). Pastikan untuk menutup retakan pada dinding, celah di bawah pintu, serta memasang kawat kasa pada lubang ventilasi dan saluran air.
Pastikan semua bahan makanan disimpan dalam wadah tertutup yang rapat (toples kaca atau plastik keras). Jangan meninggalkan piring kotor di wastafel dalam waktu lama dan selalu tutup tempat sampah dengan rapat.
Pembersihan sisa makanan hewan peliharaan juga harus menjadi perhatian agar tidak mengundang tikus datang ke area rumah.
Barang-barang bekas yang menumpuk di gudang atau sudut ruangan sering kali dijadikan sarang oleh tikus. Lakukan pembersihan secara berkala (minimal sebulan sekali) untuk memastikan tidak ada ruang bagi tikus untuk berkembang biak.
Pemangkasan tanaman atau dahan pohon yang menyentuh atap rumah juga penting dilakukan agar tikus atap tidak memiliki jalur akses masuk.
Jika sudah ditemukan tanda-tanda keberadaan tikus, penggunaan perangkap mekanis (perangkap jepit atau lem) lebih disarankan daripada racun tikus di dalam ruangan.
Penggunaan racun berisiko membuat tikus mati di tempat yang sulit dijangkau, sehingga menimbulkan bau bangkai yang mengganggu kesehatan lingkungan.
Menjaga kebersihan tidak hanya terbatas di dalam rumah, tetapi juga lingkungan sekitar. Selokan yang tersumbat dan tumpukan sampah liar di depan rumah merupakan habitat ideal bagi tikus got.
Kesadaran akan bahaya penyakit yang ditularkan tikus harus ditingkatkan. Dengan meahami jenis, kerugian, serta cara pencegahannya, risiko penularan penyakit mematikan dapat ditekan seminimal mungkin.
Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama







