Peringatan Isra Miraj 1447 Hijriah bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026. Pada momen ini, khatib salat Jumat dapat mempersiapkan khutbah Jumat Isra Miraj untuk disampaikan kepada umat Islam.
Khutbah Jumat adalah ceramah keagamaan yang disampaikan sebelum pelaksanaan salat Jumat. Fungsinya sebagai nasihat, ajakan, dan bimbingan moral kepada umat Islam khususnya laki-laki. Di momen peringatan Isra Miraj, bisa mengangkat perjalanan spiritual Rasulullah SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa.
Selain itu, bisa juga mengangkat tema tentang perintah salat lima waktu yang turun ketika peristiwa Miraj terjadi. Inilah contoh khutbah Isra Miraj 2026 berbagai tema yang dilansir dari buku Kumpulan Naskah Khutbah: Membangun Bangsa karya A. Rusdiana, dan laman NU Online.
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا سُبُلَ السَّلامِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيعَةِ النَّبِيِّ الكريم، أشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريك له، ذو الجلال والإكرام، وَأَشْهَدُ أَنْ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُه، اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الهِ وَأَصْحَابه والتابعينَ بِإِحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ فَيَأْيُّهَا الإِخْوَانِ، أَوْصَيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمُ: أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمُ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِي
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,
Alhamdulillah pada kesempatan yang berbahagia ini kita masih diberi kesempatan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk beribadah di bulan Rajab yang mulia ini. Pada kesempatan ini kita kembali memperingati peristiwa besar dan istimewa, yaitu peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Karena itu, sebagai umat Islam, kita harus mengetahui apa makna Isra’ Mi’raj, bagaimana kisah perjalanan Nabi dalam Isra’ Mi’raj? Dan apa pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Isra’ Mi’raj adalah peristiwa yang agung, yaitu Allah subhanahu wata’ala memberikan keistimewaan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina.
Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah subhanahu wata’ala sang pencipta Alam semesta. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat Isra’ ayat 1:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إلى المسجد الأقصى الذي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,
Imam Bukhari mengisahkan perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Shahih Bukhari, Juz 5 halaman 52. Intisarinya adalah suatu ketika Nabi berada di dalam suatu kamar dalam keadaan tidur, kemudian datang malaikat mengeluarkan hati Nabi dan mencucinya, kemudian memberikannya emas yang dipenuhi dengan iman.
Kemudian hati Nabi dikembalikan sebagaimana semula. Setelah itu Nabi melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dengan mengendarai Buraq diantar oleh malaikat Jibril hingga langit dunia, kemudian terdapat pertanyaan, “Siapa ini?” Jibril menjawab: “Jibril.” “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad”. “Selamat datang, sungguh sebaik-baiknya orang yang berkunjung adalah engkau, wahai Nabi.”
Di langit dunia ini, -Nabi bertemu dengan Nabi Adam ‘alaihissalam, Jibril menunjukkan bahwa Nabi Adam adalah bapak dari para nabi. Jibril memohon kepada Nabi Muhammad untuk mengucapkan salam kepada Nabi Adam, Nabi Muhammad mengucapkan salam kepada Nabi Adam ‘alaihissalam, sebaliknya Nabi Adam juga membalas salam kepada Nabi Muhammad.
Perjalanan dilanjutkan menuju langit kedua, di sini Nabi bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam, di langit keempat, Nabi bertemu dengan Nabi Idris, di langit kelima Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Harun ‘alaihissalam, Di langit keenam, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa, Nabi Musa menangis karena Nabi Muhammad memiliki umat yang paling banyak masuk surga, melampaui dari umat Nabi Musa sendiri. Dan terakhir di langit ketujuh, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Setelah itu, Nabi Muhammad menuju Sidratul Muntaha, tempat Nabi bermunajat dan berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala. Kemudian Nabi naik menuju Baitul Makmur, yaitu baitullah di langit ketujuh yang arahnya lurus dengan Ka’bah di bumi, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk untuk bertawaf di dalamnya.
Kemudian Nabi disuguhi dengan arak, susu, dan madu. Nabi kemudian mengambil susu, Jibril mengatakan: “Susu adalah lambang dari kemurnian dan fitrah yang menjadi ciri khas Nabi Muhammad dan umatnya.” Di Baitul Makmur, Nabi Muhammad bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala.
Allah mewajibkan kepada Nabi untuk melaksanakan shalat fardlu sebanyak lima puluh rakaat setiap hari. Nabi menerima dan kemudian kembali pulang, dalam perjalanan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam.
Nabi Musa mengingatkan bahwa umat Nabi Muhammad tidak akan mampu dengan perintah shalat lima puluh kali sehari,
Nabi Musa mengatakan, umatku telah membuktikannya. Lalu meminta kepada Nabi Muhammad untuk kembali pada Allah subhanahu wata’ala, mohonlah keringanan untuk umatmu.
Kemudian Nabi menghadap kepada Allah dan diringankan menjadi shalat sepuluh kali. kemudian Nabi Muhammad kembali kepada Nabi Musa, dan Nabi Musa mengingatkan sebagaimana yang pertama.
Kembali Nabi menghadap Allah hingga dua kali, dan akhirnya Allah mewajibkan shalat lima waktu.
Nabi Muhammad kembali pada Nabi Musa, Nabi musa tetap mengatakan bahwa umatmu tidak akan kuat wahai Nabi Muhammad, ….. Nabi Muhammad menjawab, saya malu untuk kembali menghadap pada Allah. Saya ridho dan pasrah kepada Allah.
Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,
Imam Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah, Sirah Nabawiyah, Juz 2 hal. 94 menceritakan, keesokan harinya, Nabi menyampaikan peristiwa tentang Isra’ Mi’raj terhadap kaum Quraisy.
Mayoritas orang Quraisy ingkar terhadap kisah yang disampaikan Nabi Muhammad, bahkan sebagian kaum muslimin ada yang kembali murtad karena tidak percaya. terhadap kisah yang disampaikan Nabi. Melihat hal tersebut, Abu Bakar bergegas untuk membenarkan kisah Isra’ Mi’raj Nabi, beliau mengatakan: “sungguh aku percaya terhadap berita dari langit,…? Sejak saat itu sahabat Abu Bakar dijuluki Nabi dengan sebutan Abu Bakar As-Shiddiq, Abu Bakar yang sangat jujur.
Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,
Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari peringatan Isra’ Mi’raj? Ali Muhammad Shalabi dalam Sirah Nabawiyah: ‘Irdlu Waqia’ wa Tahlil Ijdats, juz 1 hal.209; menjelaskan, empat hal penting yang dapat diambil dari peringatan Isra’ Mi’raj:
Pertama, Isra’ Mi’raj adalah kemuliaan dan keistimewaan dari Allah kepada hambanya tercinta, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Saat itu, Nabi baru saja mengalami hal yang amat menyedihkan, yaitu wafatnya Khadijah sebagai istri tercinta, yang selalu mendampingi dan mendukung, tenaga, pikiran, dan hartanya demi perjuangan Nabi, serta wafatnya paman tercinta Abu Thalib, yang selalu melindungi Nabi dari kekejaman kaum Quraisy.
Allah ingin menguatkan hati Nabi dengan melihat secara langsung kebesaran Allah subhanahu wata’ala. Sehingga hati Nabi semakin mantap dan teguh dalam menyebarkan Agama Allah subhanahu wata’ala. “Ini memberikan pelajaran kepada kita, bahwa siapa pun yang berjuang di jalan Allah, dan menegakkan agama, seperti dengan memakmurkan masjid, memakmurkan majelis ilmu, Allah akan memberikan kebahagiaan dan keistimewaan baginya.”
Kedua, kewajiban menjalankan shalat lima waktu bagi setiap muslim. Musthofa As Siba’i dalam kitabnya, Sirah Nabawiyah, Durus wa Ibar, jilid 1 hal.54; menjelaskan bahwa jika Nabi melakukan Isra’ Mi’raj dengan ruh dan jasadnya sebagai mukjizat;
Ketiga, Isra’ Mi’raj adalah mukjizat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan perjalanan beliau dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha. Dalam sejarah, Itu adalah perjalanan pertama manusia di dunia menuju luar angkasa, dan kembali menuju bumi dengan selamat.
Jika hal ini telah terjadi di zaman Nabi, 1400 tahun yang lalu, hal tersebut “memberikan pelajaran bagi umat Islam agar mandiri, belajar, bangkit dan meningkatkan kemampuan, tidak hanya dalam masalah agama, sosial, politik, dan ekonomi, namun juga harus melek terhadap sains dan teknologi”.
Perjalanan menuju ke luar angkasa adalah sains dan teknologi tingkat tinggi yang menjadi salah satu tolak ukur kemajuan umat dan bangsa.
Keempat, dalam perjalanan Isra’ Mi’raj, terdapat penyebutan dua masjid umat Islam, yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Hal tersebut memberikan pelajaran bagi kita bahwa Masjidil Aqsha adalah bagian dari tempat suci umat Islam.
Membela Masjidil Aqsha dan sekelilingnya sama saja dengan membela agama Islam. Wajib hukumnya bagi tiap muslim sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk selalu berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan keselamatan Masjidil Aqhsa Palestina.
Baik dengan diplomasi politik, bantuan sandang pangan, maupun dengan harta. Tidak mampu dengan itu Lakukan dengan Do’a. “Sesungguhnya Allah SWT. Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Mari kita jadikan Peristiwa Isra Miraj ini sebagai momentum dalam kehidupan untuk tetap tawadhu dan bertaqwa kepada Allah SWT. Semua hal baik berawal dari kepemimpinan diri. Berdamailah dan eksekusi mimpimu mulai besok. Jadilah tuan bagi diri sendiri yang lebih berdaya untuk masa depan yang lebih cerah.
Semoga kita selalu menjadi umat yang selalu dapat mengambil hikmah dan dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Allahumma Aamin.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونَفَعَنِي وَإِيَّاكُم بالآيات وذكر الحكيم إِنَّهُ تَعَالَى جَوَادٌ كَرِيمٌ مَلِكٌ بَر رَؤُوفٌ رَحِي
بارك الله لي الله لي ولكم . ولكم في القرآن العظيم، ونَفَعَنِي وَإِيَّاكُم بالآيات وذكر الحكيمِ إِنَّهُ تَعَالَى جَوَادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرُ رَؤُوْفٌ رَحِي
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشَّكْرُ لَهُ عَلى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَائِهِ. وَأَشْهَدُ أن لا إله إلا اللَّهُ وَاللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِى إلى رضوانه اللهم صل عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا أَمَّا بَعْدُ فَيا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ فِيمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرِ بَدَأَ بَدَأَ بَدَ . فِيهِ فِيهِ بِنَفْسِهِ بِنَفْسِهِ وثنى وَى بملا بكتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَال تعالى إنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَارْضَ اللَّهُمْ عَنِ الْخُلْفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَانَ وَعَلَى وَعَنْ بَقِيَّة الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ البِيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءُ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللهم أعز الإسلام والمسلمين وأذِلَّ الشَّرْكَ وَالمُشْرِكِينَ وَانْصُرُ عِبَادَكَ الْمُوَحْدِيَّة وَانْصُرُ مَنْ نَصَرَ الدين وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِينَ وَ دَمرُ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَاغْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا البلاء والوباء والزلازل والمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ وَالْمِحْنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلْدِنَا اندونيسيا خاصةً وَسَائِرِ البُلْدَانِ المُسلمين عامة يا رب العالمين. ربنا آتنا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِن لم تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ (الإسراء: ١)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.
Ma’asyiral Muslimin rahimukumullah,
Di bulan Rajab yang mulia ini kita bertemu dengan sebuah momen yang agung, yaitu peringatan Isra dan Miraj. Allah swt, berfirman:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ (الإسراء: ١)
Artinya: Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS al-Isra’: 1).
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Mukjizat Isra telah tetap dengan nash Al-Quran, hadits-hadits yang shahih dan ijma’. Oleh karena itu, kita wajib mengimaninya. Perjalanan Isra’ terjadi dengan roh dan jasad Nabi.
Hal itu bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Oleh karenanya, para ulama menegaskan: Barangsiapa yang mengingkari mukjizat Isra’, berarti ia telah mendustakan Al-Quran dan barangsiapa mendustakan Al-Qur’an maka ia tidak lagi tergolong sebagai bagian dari kaum muslimin.
Ma’asyiral Muslimin rahimukumullah,
Perjalanan Isra dimulai dari rumah Ummu Hani’ binti Abu Thalib sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik ra, ia berkata: Abu Dzarr menyampaikan hadits bahwa Rasulullah bersabda: “Atap rumahku dibuka, ketika itu aku di Makkah, Jibril turun dan membelah dadaku, lalu membasuhnya dengan air zamzam, kemudian ia datang membawa bejana emas yang penuh dengan hikmah dan iman, maka ia menuangkannya di dadaku, kemudian menutup dadaku kembali,” (HR Muslim).
Al-Baihaqi meriwayatkan dari sahabat Syaddad bin Aus ra, ia berkata: Kami bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana engkau diperjalankan Isra’? Nabi menceritakan:
“Aku melakukan shalat malam bersama para sahabatku di Makkah, lalu Jibril mendatangiku dengan binatang putih, postur tubuhnya lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghl (peranakan kuda dan keledai), maka Jibril berkata: ‘Naiklah!’ Namun Buraq bergoyang kegirangan saat aku mendekatinya. Lalu Jibril memutar Buraq dengan memegang telinganya dan menaikkanku ke atas punggungnya, sehingga akhirnya binatang tersebut berangkat membawa kami. Kakinya melangkah sejauh pandangan matanya, hingga kami sampai ke suatu daerah yang penuh dengan pohon kurma, lalu Jibril menurunkanku seraya berkata: ‘Laksanakanlah shalat di tempat ini!’ aku pun melaksanakan shalat di tempat tersebut. Kemudian kami naik ke atas Buraq lagi dan Jibril berkata: ‘Tahukah engkau di mana engkau tadi melakukan shalat?’ Aku menjawab: ‘Allah-lah yang Maha Mengetahui.’ Jibril berkata: ‘Engkau tadi melakukan shalat di Yatsrib, di Thaybah (yang di kemudian hari disebut Madinah).’
Demikianlah, Nabi di malam itu berpindah dari satu tempat ke tempat berikutnya dengan mengendarai Buraq, dan ditemani oleh malaikat Jibril. Nabi melakukan shalat di bukit Thur Saina (Tursina), tempat diperdengarkannya kalam Allah kepada Nabi Musa as, kemudian di Bait Lahm (Betlehem), tempat ‘Isa al-Masih bin Maryam as dilahirkan. Nabi bercerita:
“Kemudian Jibril kembali membawaku hingga kami memasuki kota Baitul Maqdis dari pintu Yamani. Jibril pun mendatangi arah kiblat Masjidil Aqsha dan mengikat Buraq di sana. Lalu kami memasuki Masjidil Aqsha dari pintu yang terkena cahaya matahari dan bulan. Kemudian aku melakukan shalat di salah satu tempat di masjid tersebut.”
Ma’asyiral Muslimin rahimukumullah,
Peringatan Isra adalah peringatan yang agung, yang menyegarkan ingatan kita tentang sejarah hidup makhluk Allah yang paling agung, pemimpin makhluk seluruhnya yang menjelaskan hakikat kebenaran dan menampakkannya, pemilik mukjizat-mukjizat yang luar biasa nan menakjubkan, penghulu para nabi, Nabi agung Muhammad saw.
Di malam yang agung tersebut, Allah memperlihatkan keutamaan dan kemuliaan Sayyidina Muhammad saw di atas semua nabi dan rasul. Allah mengumpulkan untuk Nabi kita Muhammad saw, semua nabi dan rasul di Baitul Maqdis. Lalu Nabi Muhammad melaksanakan shalat sebagai imam bagi mereka semua.
Dalam perjalanan Isra, Nabi Muhammad saw, melihat banyak sekali keajaiban-keajaiban yang mengandung hikmah dan pelajaran bagi kita semua.
Di antaranya, ketika beliau melewati kuburan tukang sisir putri Firaun, beliau mencium bau wangi yang muncul dari kuburan perempuan muslimah yang shalihah tersebut, perempuan yang Allah berikan kepadanya dan kepada anak-anaknya karunia mati syahid.
Dalam kisahnya, bahwa suatu hari perempuan ini tengah menyisir rambut putri Fir’aun. Lalu jatuhlah sisir dari tangannya. Ia lalu berucap: “Bismillah (dengan menyebut nama Tuhan Allah).” Putri Firaun bertanya kepadanya: “Apakah kamu memiliki tuhan selain ayahku?” Tukang sisir itu menjawab: “Iya, Tuhanku dan Tuhan ayahmu adalah Allah.”
Putri Firaun kemudian memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Fir’aun lantas meminta tukang sisir itu untuk meninggalkan agamanya. Akan tetapi tukang sisir menolak. Fir’aun lalu memanaskan air di suatu wadah besar yang diisi minyak hingga mendidih. Kemudian ia memerintahkan para algojonya untuk melemparkan anak-anak tukang sisir itu satu persatu ke air panas tersebut, sehingga daging mereka meleleh dan lepas dari tulangnya.
Namun tukang sisir tidak surut sedikit pun untuk mempertahankan imannya. Hingga tibalah giliran anaknya yang masih menyusu untuk dilempar. Tiba-tiba anak itu berbicara kepada ibunya. Allah menjadikannya bisa bicara. Anak itu berkata: “Wahai Ibuku, bersabarlah karena siksa akhirat lebih pedih dari siksa dunia. Janganlah engkau gentar dan mundur selangkah pun, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran.”
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Mampukah kita di masa sekarang ini meraih puncak kesabaran seperti ini? Di masa yang penuh godaan ini, mampukah kita mempertahankan kebenaran yang kita yakini? Seberapa kuat kita mampu memegang teguh nilai-nilai kebenaran yang diajarkan Baginda Rasulullah saw? Di masa yang penuh dengan fitnah ini, bisakah kita meneladani Masyithah (tukang sisir putri Firaun)?
Marilah kita berintrospeksi, menanyai diri sendiri. Apakah kita telah mengerjakan apa yang Allah wajibkan kepada kita? Apakah kita telah menjauhi segala hal yang Allah haramkan? Apakah kita telah melaksanakan shalat pada waktunya? Apakah kita telah membayar zakat yang diwajibkan atas kita?
Rasulullah dalam perjalanan Isra’nya juga melihat orang-orang yang menyebar seperti binatang-binatang ternak, aurat mereka hanya tertutup dengan kain-kain kecil. Jibril berkata kepada Rasulullah: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan zakat.”
Nabi juga melihat sekumpulan orang yang retak dan pecah kepalanya, kemudian kembali seperti semula. Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang yang enggan dan malas menunaikan kewajiban shalat.”
Rasulullah juga melihat orang-orang yang memperebutkan daging busuk dan mengabaikan daging bagus yang sudah terpotong-potong. Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang dari umatmu yang meninggalkan sesuatu yang halal, dan lebih memilih sesuatu yang haram dan keji, lalu memakannya. Mereka adalah para pezina.” Rasulullah juga melihat orang-orang yang meminum nanah yang keluar dari para pezina. Jibril berkata: “Mereka adalah para peminum khamr yang diharamkan oleh Allah di dunia.”
Inilah sebagian keajaiban yang Allah perlihatkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw, dalam perjalanan Isra’. Mudah-mudahan kita dapat memetik hikmah dan pelajaran darinya.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الصَّادِقِ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ، وَعَلٰى إِخْوَانِهِ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَارْضَ اللهم عَنْ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَآلِ الْبَيْتِ الطَّاهِرِيْنَ، وَعَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الْأَئِمَّةِ الْمُهْتَدِيْنَ، أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَعَنِ الْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَاتَّقُوْهُ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلٰى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضٰالِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ، اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وآمِنْ رَّوْعَاتِنَا وَاكْفِنَا مَا أَهَمَّنَا وَقِنَا شَرَّ ما نَتَخوَّفُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى ويَنْهٰى عَنِ الفَحْشٰاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَاتَّقُوْهُ يَجْعَلْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مَخْرَجًا، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
الْحَمْدُ اللَّهُ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الَّذِي جَعَلَ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَفِيَّهُ وَحَبِيبَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوثُ الْمَمْلُوْءُ بِالْهُدَى وَالرَّحْمَةِ اللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد ﷺ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أما بعده:
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْنِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!
Melalui mimbar ini khatib mengajak hadirin semua agar selalu meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SAW karena dengan iman dan takwa itu kita dapat hidup dengan tenang, aman, damai, dan bahagia di dunia maupun di akhirat.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah!
Dalam syariat Islam, peristiwa Isra’ dan Mi’raj dikenang sepanjang masa dan diperingati sebagai peristiwa besar. Kejadiannya memang selalu menarik untuk dikaji dan dicermati, karena terjadi dalam suasana peradaban yang tergolong terbelakang dari sisi sains dan teknologi.
Nabi Muhammad SAW telah mengalami perjalanan yang sangat mengherankan, bahkan bisa disebut mustahil. Selain bercerita, kalau telah melakukan perjalanan malam dari Makkah ke Palestina yang berjarak sekitar 1500 km dalam waktu setengah malam saja. Bagi masyarakat pada waktu itu, perjalanan tersebut, sama sekali tidak masuk akal, sehingga menimbulkan kehebohan dan cemoohan, menganggap Muhammad bohong belaka.
Akan tetapi mereka pun ragu karena Muhammad dikenal sebagai orang yang tidak pernah bohong dari sejak kecilnya.
Kejadian itu bagi orang sekarang bukanlah suatu yang mengherankan mengingat perkembangan teknologi transportasi yang semakin canggih, seperti mobil, kereta api cepat dan pesawat terbang.
Jarak antara Makkah dan Palestina bisa ditempuh dengan yang waktu jauh lebih cepat dibandingkan dengan kuda atau unta yang memakan waktu berbulan-bulan bagi masyarakat pada zaman itu. Yang sangat tidak bisa dicerna oleh akal pikiran orang-orang di zaman itu dan juga oleh orang-orang di zaman modern ini adalah pada perjalanan tahap kedua yaitu perjalanan Mi’raj.
Mi’raj yaitu melakukan perjalanan dari Masjidil Aqsha di Palestina menuju langit yang ketujuh. Peristiwa itu merupakan kekuasaan Allah yang diperlihatkan kepada manusia akan kebesaran-Nya, keagungan-Nya, dan kemahakuasaan Allah swt.
Allah mampu atau qadirun untuk melakukan apa saja yang menurut akal manusia tidak mampu untuk dilakukan, meskipun belakangan ini secara berangsur-angsur ilmu pengetahuan modern mulai bisa melihat celah-celah kemungkinan pemahaman dan pembuktian terhadap peristiwa itu.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj sarat dengan pemahaman ilmu pengetahuan mutakhir. Hal ini menunjukan bahwa ajaran Islam mengandung pelajaran yang sangat canggih yang berlaku sampai akhir zaman.
Ditafsirkan secara sederhana seperti pada zaman Rasulullah SAW bisa ditafsirkan dengan ilmu pengetahuan mutakhir pun semakin mempesona. Untuk memahami hikmah yang terkandung dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj tersebut marilah kita kutip firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al- Isra’:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah MAha Mendengar lagi Maha melihat”
Cerita tentang Isra’ dan Mi’raj di dalam firman Allah tersebut di atas, dimulai dengan kata Subhanallazi Maha Suci Allah. Yang kata ini memiliki makna yang sangat mendalam untuk memulai pemahaman kita. Dan ini menandakan bahwa Allah SWT ingin memberikan pengajaran kepada kita bahwa perjalanan Rasulullah SAW, ini bukanlah perjalanan biasa melainkan sebuah perjalanan luar biasa.
Dalam Islam kata Subhanallah diajarkan untuk diucapkan ketika kita menemui suatu kejadian yang luar biasa atau menakjubkan, misalnya ketika melihat ciptaan Allah yang Maha dahsyat di alam semesta, kita dianjurkan untuk mengucapkan Subhanallah.
Ketika Allah memulai ayat Al-Isra’ tersebut dengan kata Subhanallah terkesan dalam pikiran kita bahwa Allah akan bercerita sesuatu yang luar bisa di kalimat-kalimat berikutnya. Selain itu penegasan-penegasan dibagian akhir ayat ini juga menggambarkan betapa semua itu memang menunjukkan Maha Perkasa dan Maha agungnya Allah swt, Sang Penguasa alam semesta.
Berikutnya kata “Asra” memperjalankan. Kata ini memberikan makna yang penting buat kita dalam memahami peristiwa tersebut, bahwa ternyata perjalanan luar biasa itu memang bukan kehendak Rasulullah sendiri, melainkan kehendak Allah SWT.
Allah lah yang telah memperjalan Muhammad SAW, dengan kata lain bahwa Rasulullah SAW. tidak akan bisa melakukan perjalanan tersebut atas kehendaknya sendiri. Perjalanan ini memang terlalu dahsyat bagi seorang manusia jangankan manusia biasa Rasulullah SAW pun tidak bisa jika tidak diperjalankan oleh Allah SWT.
Karena itu Allah mengutus malaikat Jibril untuk membawa Nabi melintasi ruang dan waktu di dalam alam semesta Allah SWT. Jibril sengaja dipilih oleh Allah untuk mendampingi perjalanan beliau, karena Jibril adalah makhluk dari langit ketujuh yang berbadan cahaya, dengan badan cahayanya itu, Jibril bisa membawa Rasulullah SAW melintasi dimensi yang tak kasat mata.
Selanjutnya kata bi’abdihi (hambanya) menggambarkan bahwa Rasulullah diperjalankan sebagai manusia seutuhnya, artinya jiwa dan raga karena kata hamba memang menunjuk kepada totalitas dari seorang manusia, tidak sembarang orang bisa melakukan perjalanan seperti yang dialami Rasulullah, yang bisa melakukan perjalanan luar biasa itu, hanya seorang yang sudah mencapai tingkatan tertentu di dalam kualitas beragamanya, yaitu Abdihi- hamba Allah.
Seorang hamba Allah adalah orang yang memiliki derajat sangat tinggi dihadapan Allah, karena orang semacam ini telah meniadakan “aku” alias “ego”nya yang ada hanya Allah semata di dalam hidupnya.dia tidak memiliki keinginan pribadi, yang ada hanya keinginan Allah.
Dia telah berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Inilah puncak tertinggi didalam proses beragama. Karena sesungguhnya dia telah bisa mengaplikasikan kalimat La ilaha illallah dengan sebenar-benarnya.
Kemudian Allah SWT menginformasikan bahwa perjalanan itu dilakukan “lailan” pada malam hari. Kenapa tidak siang hari saja? Mengingat bahwa peristiwa ini adalah sebuah perjalanan yang dikendalikan Allah lewat mekanisme yang sangat canggih, badan Nabi diubah menjadi badan cahaya oleh jibril, agar Nabi bisa mengikuti kecepatan Malaikat dan Buraq.
Sedangkan pada siang hari radiasi sinar matahari demikian kuatnya sehingga bisa membahayakan badan Rasulullah yang sebenarnya memang bukan badan cahaya. Badan Nabi yang sesungguhnya adalah materi. Perubahan menjadi badan cahaya itu hanya bersifat sementara sesuai kebutuhan untuk melakukan perjalanan bersama Jibril.
Perjalanan malam hari memiliki makna yang sangat penting buat kelancaran perjalanan baliau dan sangat penting dalam melakukan komunikasi dengan Allah SWT. Sebagai contoh Allah SWT memerintahkan kita untuk melakukan shalat malam yang bernilai sangat tinggi yaitu shalat tahajjud. Karena pada malam hari jiwa kita bisa menjadi lebih fokus dan khusyuk. Allah berfirman dalam Surat Al-Muzammil: 6
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلاً
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah
Kalimat: من المسجد الحرام إلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى
(Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha). Mengapa Allah memperjalankan Nabi Muhammad dari Masjid ke Masjid? Hal ini tentu ada makna yang tersembunyi di dalam informasi ini.
Masjid adalah suatu tempat yang banyak menyimpan energi positif, karena Masjid terus menerus digunakan untuk melakukan proses peribadatan yang menghasilkan energi positif. Sebagaimana diketahui bahwa energi positif dari berbagai ibadah kita bakal berimbas ke tempat sekitar.
Sebagai contoh; Rumah yang sering kita pakai untuk shalat malam, zikir, baca Al-Quran dan sebagainya akan terasa dingin dan menyejukkan serta membuat kita kerasan, mengapa? Karena energi doa kita telah berimbas ke lingkungan rumah kita, maka dapat dibayangkan betapa besarnya energi positif yang tersimpan di dalam Masjid, khususnya Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha.
Kedua Masjid itu telah berumur ribuan tahun dan selama ribuan tahun itu pula digunakan untuk kegiatan-kegiatan peribadatan yang menghasilkan energi positif, sehingga sungguh di tempat itu menyimpan energi yang sangat dahsyat.
Lalu apa kaitannya dengan perjalanan Rasulullah SAW? terkait dengan badan Nabi yang telah diubah menjadi badan energi atau cahaya, maka banyak hal yang harus disesuaikan dengan perubahan itu termasuk tempat keberangkatan dan kedatangan beliau.
Selanjutnya, kata-kata: يَا رَكْنَا حَوْلَهُ (Kami berkahi sekelilingnya) Menggambarkan betapa Allah terus mengendalikan proses perjalanan tersebut. Dia memberkahi sekelilingnya supaya tidak muncul kendala yang berarti.
Sejak awal Allah SWT telah mengutus Malaikat Jibril untuk mendampingi Rasulullah SAW mulai dari persiapan jiwa raganya, sampai memandu apa yang harus dilakukan oleh Nabi. Kemudian perjalanannya pun dilakukan dari Masjid ke Masjid.
Dan selama perjalanan tersebut Allah masih memberikan berkahNya supaya tidak terjadi gangguan-gangguan gelombang yang membahayakan badan energi Nabi Muhammad SAW. Sebab jika tidak dilindungi secara khusus badan Nabi bisa mengalami proses balik menjadi badan material lagi sebelum waktunya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Apa tujuan dari perjalanan itu? Lanjutan ayat tersebut لنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَاً )agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran kami). Sebagian ulama berpendapat bahwa perjalanan tersebut bermaksud untuk memantapkan hati Rasulullah setelah beliau mengalami tekanan bertubi-tubi dalam perjuangan menyebarkan Agama Islam.
Tahun-tahun menjelang keberangkatan Isra’ Mi’raj itu Rasulullah mengalami boikot ekonomi dari orang-orang kafir Quraisy, disusul dengan meninggalnya istri beliau tercinta Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib yang sangat besar peranannya dalam membantu perjuangan beliau.
Maka Nabi sangat prihatin dan tertekan, sehingga Allah memerintahkan Nabi agar melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj tersebut, untuk memberikan keyakinan dan motivasi atas perjuangannya kembali.
Hal-hal semacam ini memang terjadi juga pada para Rasul sebelumnya, seperti terjadi pada Nabi Musa, Nabi Yunus, Nabi Ibrahim, dan Nabi-Nabi yang lain.
Itulah salah satu tujuan Allah SWT memperjalankan Rasulullah SAW lewat peristiwa Isra’ Mi’raj meskipun Rasulullah seorang yang Ummi (buta huruf) bukan berarti beliau tidak memiliki ilmu tentang alam sekitarnya, bahkan beliau memiliki ilmu yang sangat tinggi yang terlentang dari langit pertama sampai langit ke tujuh.
Ilmu-ilmu tersebut diajarkan Allah kepada Rasulullah SAW tidak lewat tulisan melainkan lewat pengalaman empiris langsung masuk ke dalam hati beliau sebagai sebuah pemahaman, bukan sekedar ingatan atau memori dalam otak.
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat). Kalimat Maha Mendengar dan Maha Melihat ini dimaknai bahwa Allah telah memberikan sebagian sifat Sama dan Bashar itu kepada Rasulullah SAW benar-benar dalam kejadian penuh sehingga bisa mendengar dan melihat berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah di rute yang beliau lewati dan memang ini sesuai dengan tujuan itu bahwa Allah ingin memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya agar Rasulullah SAW semakin yakin kepada-nya.
Demikianlah sekilas hikmah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW semoga dapat memberikan pemahaman bagi kita semua. Amin ya Rabbal Alamin.
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ عَظِيْمِ. وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمَنْكُمْ تَلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللَّهُ الْعَظِيمِ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتُ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتُ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ.
Itulah contoh khutbah Jumat Isra Miraj 2026 yang bisa dipakai untuk memperingati momen bersejarah di akhir bulan Rajab. Semoga berguna, ya.







