Kota Palembang Sumatera Selatan memiliki banyak jejak sejarah masa lalu, salah satunya adalah Goa Jepang yang berada di Jalan AKBP H Umar, Kecamatan Kemuning. Situs bersejarah yang dibangun pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1943 ini kini kembali menjadi perhatian Pemerintah Kota Palembang.
Goa Jepang tersebut dulunya dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan senjata sekaligus markas pasukan tentara Jepang. Struktur bangunannya cukup kompleks, terdiri dari lorong-lorong bawah tanah, sekat-sekat ruangan, serta menara pengintai yang berada di bagian atas goa. Di tengah masyarakat, berkembang pula cerita bahwa lorong goa ini disebut-sebut tembus hingga kawasan Rumah Sakit Charitas.
Namun seiring berjalannya waktu, kondisi Goa Jepang kini tampak memprihatinkan. Sejumlah bagian dinding terlihat mengalami kerusakan, bahkan ada yang roboh. Area sekitar goa juga tampak kurang terawat dan dipenuhi semak belukar, sehingga mengurangi nilai historis sekaligus potensi wisata yang dimiliki.
Melihat kondisi tersebut, Wali Kota Palembang Ratu Dewa turun langsung meninjau Goa Jepang. Dalam kunjungannya, ia meminta agar kawasan ini segera dibersihkan dan ditata dengan lebih baik. Menurutnya, Goa Jepang merupakan aset sejarah penting yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara maksimal.
Ratu Dewa juga menginstruksikan jajaran Pemkot Palembang untuk segera berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan. Kerja sama ini dinilai penting untuk memastikan upaya penataan dan pengembangan Goa Jepang tetap memperhatikan aspek pelestarian cagar budaya.
“Ini peninggalan sejarah. Saya minta bersihkan, kita rawat, dan kita kembangkan agar ke depan bisa menjadi destinasi wisata sejarah yang layak dikunjungi,” ujarnya, Jumat (2/1/2026).
Tak hanya fokus pada penataan fisik, Ratu Dewa juga menaruh perhatian pada cerita yang berkembang di masyarakat mengenai adanya lubang yang diduga menghubungkan Goa Jepang dengan kawasan Charitas. Ia meminta agar hal tersebut tidak hanya menjadi cerita turun-temurun, tetapi dikaji secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Saya minta dilakukan kajian lebih lanjut. Apakah benar ada lorong yang tembus ke goa di Charitas. Ini tentu menarik dan bisa menjadi nilai sejarah tambahan, tapi harus jelas secara ilmiah,” tegasnya.
Kunjungan ke Goa Jepang ini juga menjadi bagian dari kegiatan anti mager yang dicanangkan Ratu Dewa di awal tahun 2026. Ia menegaskan komitmennya untuk membangun budaya kerja yang aktif dan responsif, dengan turun langsung ke lapangan dan melihat kondisi nyata di tengah masyarakat.
“Saya ingin budaya kerja kita berubah. Tidak mager, tidak hanya bekerja dari balik meja. Kita harus bergerak, melihat langsung, dan bekerja nyata untuk masyarakat Palembang,” tutupnya.







