Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang mengungkap fakta baru di balik tingginya temuan 451 kasus HIV di Kota Pempek sepanjang 2025. Bukan lagi lewat jarum suntik narkoba, penularan kini justru didominasi oleh perilaku seksual sesama jenis atau laki-laki seks laki-laki (LSL).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Palembang, Yudhi Setiawan, menyebutkan bahwa pergeseran perilaku seksual ini menjadi perhatian serius, terutama di kalangan usia produktif.
“Fenomena di kota besar seperti Palembang, kasus HIV tinggi pada usia produktif 20-40 tahun. Kemungkinan besar lewat seks bebas, dan yang menonjol sekarang justru di kelompok LSL (sesama jenis laki-laki),” ujar Yudhi saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (22/1/2026).
Menariknya, jalur penularan melalui jarum suntik yang sempat tren di masa lalu kini merosot tajam. Hal ini disebabkan perubahan jenis narkoba yang dikonsumsi masyarakat dari heroin ke sabu.
“Tren narkoba sekarang pakai sabu yang dihirup (inhalasi), bukan suntik. Karena bukan suntik, risiko penularan HIV lewat jalur ini jadi menurun drastis. Program layanan jarum suntik steril pun sudah ditiadakan di Palembang,” jelas Yudhi.
Bagi warga yang sudah terdiagnosa, Dinkes memastikan ketersediaan obat Antiretroviral (ARV) dalam kondisi aman. Obat ini krusial untuk menjaga imun penderita agar tetap stabil dan tidak masuk ke fase AIDS yang mematikan.
“Masyarakat tidak perlu khawatir, stok ARV insya Allah aman sepanjang 2026. Bahkan hitungan kita sudah ter-cover hingga bulan April atau setelah Lebaran nanti,” tambah tim program HIV Dinkes Palembang dalam kesempatan yang sama.
Untuk membendung kasus di usia muda, Dinkes Palembang mengandalkan program edukasi saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Prinsip pencegahan tetap mengacu pada ABC, namun dengan modifikasi pada poin C.
“Pencegahannya yaitu A (Abstinence) tidak seks sebelum nikah, B (Be Faithful) setia pada pasangan, dan C yang dulunya kondom, kini kita geser menjadi kounseling atau penyuluhan. Kita edukasi anak remaja supaya tidak melakukan kegiatan berisiko yang tidak sesuai ajaran agama,” tegas Yudhi.
Pihak Dinkes juga menjamin kerahasiaan identitas (privasi) bagi siapa pun yang ingin melakukan tes HIV sukarela di 42 Puskesmas yang tersebar di Palembang.
“HIV jangan dianggap aib yang mematikan, ini bisa dikontrol seperti darah tinggi (hipertensi) asalkan rutin minum obat dan hidup sehat,” tutupnya.
Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.







