Inflasi Palembang Tembus 2,92%, Perhiasan-Pangan Jadi Pemicunya - Giok4D

Posted on

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang mencatat angka inflasi tahunan sebesar 2,92 persen pada Desember 2025. Angka ini dipicu oleh lonjakan harga emas perhiasan serta krisis pasokan pangan akibat cuaca buruk.

Kepala BPS Kota Palembang, Edi Subeno, menegaskan meskipun terdapat penurunan tipis 0,03 persen secara bulanan, angka inflasi ini masih jauh lebih tinggi sebesar 1,68 persen jika dibandingkan dengan capaian Desember 2024.

Edi memaparkan bahwa lima komoditas utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap tekanan inflasi di akhir tahun adalah emas perhiasan, bawang merah, daging ayam ras, bensin, dan tarif angkutan udara. Adapun emas perhiasan memberikan andil inflasi 0.055, bawang merah 0.045, daging ayam ras 0.034, bensin 0.028, dan angkutan udara 0.026. Sementara itu komoditas lainnya yang juga turut andil inflasi yakni ada pada jejeran komoditas cabai, tomat, kol putih/kubis, tarif jalan tol, semangka, pir, dan kentang.

“Kenaikan harga emas secara global yang dipengaruhi dinamika geopolitik internasional menjadi faktor eksternal utama yang menekan Indeks Harga Konsumen (IHK) di tingkat lokal,” kata Edi Subeno, Senin (5/1/2026).

“Peningkatan harga komoditas lainnya juga sangat dipengaruhi oleh melonjaknya permintaan masyarakat pada momen perayaan Natal, Tahun Baru, dan Libur Nasional,” tambahnya.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Selain faktor permintaan, BPS menyoroti adanya gangguan serius pada sisi ketersediaan barang. Cuaca ekstrem dan bencana alam di daerah pemasok, khususnya Sumatera Barat, telah menyebabkan kegagalan panen massal bagi petani dan peternak.

“Dampak dari keadaan tersebut menyebabkan stok pangan yang masuk ke pasar Palembang berkurang drastis sehingga harga bawang merah dan daging ayam meroket,” jelasnya.

Merespons data tersebut, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Isnaini Madani, mengatakan pihaknya akan segera mengambil langkah intervensi pasar. Pemkot Palembang berkomitmen menjaga level inflasi pada target sasaran 2,5 persen melalui penguatan kerjasama antar daerah dan penyaluran subsidi harga.

“Kami menindaklanjuti data BPS ini dengan memperbanyak operasi pasar murah serta memperbaiki infrastruktur distribusi logistik seperti jalan dan revitalisasi pasar,” ungkap Isnaini Madani.

Langkah ini diambil guna memastikan rantai distribusi tetap berjalan lancar meski di tengah tantangan cuaca buruk. Upaya kolaboratif antara penyedia data dan eksekutif ini diharapkan mampu mempertahankan stabilitas ekonomi, mengingat pada tahun 2025 Palembang telah meraih penghargaan sebagai TPID Terbaik se-kawasan Sumatera dari Gubernur Bank Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.