Sejumlah kawanan monyet liar memasuki permukiman warga di Palembang, Sumatera Selatan. Keberadaan hewan ini pun membuat warga resah karena kerap melompati atap rumah dan takut diserang monyet liar itu.
Pantauan infoSumbagsel kawanan monyet liar itu berada di permukiman warga Kelurahan Talang Kelapa, Kecamatan Alang-Alang Lebar (AAL), Palembang.
Warga menduga kemunculan monyet-monyet itu berasal dari kawasan hutan di sekitar permukiman yang kini telah banyak menjadi area pembangunan komplek perumahan.
Salah seorang warga setempat bernama Zamzili (50) mengatakan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan hutan lebat yang menjadi habitat alami monyet.
Kemudian, dengan pesatnya pembangunan, hewan-hewan tersebut diduga kehilangan tempat tinggal sehingga masuk ke lingkungan warga.
“Kawasan di sini (permukiman) dulunya hutan semua. Mungkin karena sekarang sudah banyak dibangun kompleks tinggal warga, monyet-monyet itu kehilangan habitatnya, sehingga membuat mereka berada di lingkungan ke sini,” katanya kepada infoSumbagsel, Selasa (26/1/2026).
Zamzili menuturkan, kawanan monyet tersebut sebenarnya sudah cukup lama terlihat berkeliaran di lingkungan tersebut. Bahkan, tak jarang monyet-monyet itu melompat dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya, sehingga membuat warga merasa khawatir.
“Sebetulnya monyet-monyet itu sudah lama masuk ke sini. Kadang mereka loncat dari atap ke atap rumah warga, mungkin di sini mereka mau cari makan juga,” ujarnya.
Meski hingga saat ini belum ada laporan monyet menyerang warga atau memangsa hewan peliharaan, Zamzili mengaku warga tetap merasa waswas. Pasalnya, monyet merupakan hewan liar yang berpotensi membahayakan keselamatan warga.
“Kalau soal menyerang warga atau memangsa hewan peliharaan, sejauh ini saya belum tahu. Tapi pasti kami resah, takutnya mereka tiba-tiba menyerang. Apalagi itu hewan liar, kami juga khawatir risiko rabies kalau sampai mengganggu atau melukai warga,” jelasnya.
Menurut Zamzili, warga telah berupaya melaporkan kejadian tersebut ke sejumlah pihak terkait, seperti Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kota Palembang, serta Polisi Kehutanan di kawasan Punti Kayu, agar kawanan monyet tersebut dapat dievakuasi.
“Kami sudah sempat menghubungi Damkar Palembang, dan Polisi Kehutanan di Punti Kayu untuk meminta bantuan evakuasi,” katanya.
Namun, kata Zamzili, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Pihak damkar mengaku kesulitan melakukan evakuasi karena monyet-monyet itu berada di area terbuka dan belum masuk ke dalam rumah warga.
“Dari damkar bilang mereka tidak bisa mengangkut monyet kalau masih di luar rumah, karena sulit ditangkap,” ungkapnya.
“Kalau dari Polisi Kehutanan Punti Kayu ada perangkap monyet, tapi kemarin kata mereka, alatnya itu masih dipakai di tempat lain,” tambahnya.
Ia berharap, agar pihak terkait dapat segera mengambil tindakan sehingga kawanan monyet liar tersebut bisa dievakuasi dan tidak lagi meresahkan warga.
“Yang pasti, kami berharap monyet-monyet itu bisa segera dievakuasi,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Penyelamatan DKP Kota Palembang Denny mengatakan bahwa evakuasi monyet jauh lebih sulit dibandingkan penanganan hewan liar lainnya karena karakter monyet yang sangat lincah dan agresif.
“Karena monyet ini binatang yang suka meloncat ke mana-mana, jadi kami susah menangkapnya. Kalaupun kami datang ke lokasi, kami tidak bisa menjamin monyet itu pasti tertangkap, kecuali kalau dia berada di ruang terbatas,” katanya, saat dijumpai infoSumbagsel, Selasa.
Menurutnya, monyet baru dapat dievakuasi apabila masuk ke area tertutup seperti gudang, rumah kosong, atau rumah yang sedang dihuni, sehingga ruang geraknya terbatas dan petugas dapat mengepungnya.
“Kalau sudah terpojok dan geraknya terbatas, baru bisa kita tangkap,” ujarnya.
Denny menyebutkan bahwa pihaknya selalu berupaya mengembalikan hewan liar hasil evakuasi ke habitat aslinya. Namun, khusus monyet, hal tersebut menjadi persoalan tersendiri.
“Biasanya hewan liar kami kembalikan ke habitat aslinya. Selain lincah, monyet juga bersifat teritorial, jadi kalau dilepas di habitat yang sudah ada monyet lain, mereka bisa bertengkar,” katanya.
Ia mengakui petugas berada dalam posisi serba sulit saat mengevakuasi hewan liar seperti monyet, sehingga menurutnya akan lebih efektif jika menangkapnya dengan senjata bius.
“Ya memang itu betulan jadi tugas yang sulit bagi kami menangangi monyet liar, karena kami tidak memiliki tembakan bius untuk melumpuhkannya,”
Denny juga menambahkan, bahwa pihaknya pernah berkodirnasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan (Sumsel), terkait metode jebakan untuk mengamankan monyet liar.
“Kami pernah koordinasi dengan BKSDA yang di Punti Kayu. Sistemnya pakai jebakan besar. Tapi jebakan itu tidak menjamin dapat. Ditunggu, ditinggal, kadang balik lagi, kadang tidak. Jadi bukan kami tidak mau menindaklanjuti laporan masyarakat, tapi memang sering zonk,” jelas Denny.
Kemudian, ia mengungkapkan pengalaman saat monyet yang berhasil dievakuasi dilepaskan ke kawasan Punti Kayu. Namun, monyet tersebut justru menyerang penjaga kawasan.
Artikel ini ditulis oleh Aldekum Fatih Rajih, peserta magang Prima PTKI Kementerian Agama RI.







