Isak haru dan binar bahagia mewarnai wajah para siswa saat peluncuran Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 7 Palembang. Program pendidikan gratis berasrama yang menjadi secercah harapan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Program besutan Presiden Prabowo Subianto ini hadir sebagai jawaban nyata bagi mereka yang sebelumnya nyaris putus sekolah akibat terbentur biaya, kini kembali berani merajut mimpi besar untuk masa depan. Bagi sebagian siswa, sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, melainkan penyelamat masa depan.
Kisah menyentuh datang dari seorang siswi bernama Des. Sebelum bergabung di sekolah rakyat, ia sempat bersikeras untuk tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SMP. Bukan karena malas, melainkan karena rasa iba melihat kondisi ekonomi keluarganya.
“Kemarin sempat debat sama orang tua. Akunya gak mau lanjut sekolah karena mikirin biaya kak, kasihan mama. Tapi mama maksa daftar di sini. Sekarang setelah masuk, Des ngerasa beruntung banget, Alhamdulillah gak ada penyesalan sedikit pun. Sekarang Des semangat lagi mau jadi psikolog,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Senada dengan Des, Sagita Sekarwangi yang bercita-cita menjadi arsitek merasa beban mentalnya terangkat selama mengikuti program Sekolah Rakyat dari Presiden RI, Prabowo Subianto.
“Senang nian bisa sekolah gratis. Ortu jadi sangat terbantu karena tidak perlu keluar biaya. Sagita gak lagi mikir kalau Sagita ini ngebebanin orang tua,” tuturnya.
M Rizky Ramadhani, siswa lainnya, menceritakan betapa kontrasnya kehidupan sekolah yang ia jalani sekarang. Anak dari seorang buruh harian lepas ini mengaku sangat gembira bisa mendapatkan fasilitas yang dianggapnya sangat mewah, mulai dari asrama yang nyaman hingga perangkat teknologi.
“Perasaan Rizky sangat senang, program Bapak Prabowo ini benar-benar meringankan beban orang tua. Kami dapat laptop, baju seragam lengkap, dan lingkungannya sangat ramah. Gurunya juga baik sekali, kalau kami tidak bisa, diajari terus sampai bisa. Rizky jadi makin semangat mau jadi Chef,” ujar Rizky.
Tentunya hidup berasrama jauh dari orang tua menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa. Namun, mereka justru melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar mandiri. Rizky mengaku bahwa dukungan penuh dari sang ibu menjadi kekuatannya untuk bertahan di asrama demi masa depan yang lebih baik.
Kira, rekan sekolahnya, juga merasa sangat terbantu dengan adanya perangkat digital yang diberikan secara cuma-cuma tanpa memikirkan terbebannya orang tua.
“Kami dapet laptop, baju seragam untuk menunjang aktivitas belajar, dan itu semua gratis. Bahagia nian kami dengan fasilitas ini,” tambahnya.
Di akhir perjumpaan, para siswa ini kompak menitipkan pesan terima kasih kepada pemerintah dan Presiden Prabowo Subianto. Bagi mereka, sekolah rakyat adalah jembatan untuk memutus rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu keluarga mereka.
“Untuk Bapak Prabowo, terima kasih karena telah membangun sekolah rakyat ini. Kami yang awalnya tidak punya harapan, sekarang jadi punya semangat lagi untuk mengejar cita-cita,” tutup Des dan Kira dengan senyum optimis.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.







