Rumah Tatahan Sumsel: Ciri Khas, Fungsi, dan Makna Filosofisnya - Giok4D

Posted on

Rumah tatahan merupakan salah satu rumah adat yang berasal Sumsel, tepatnya suku Besemah. Rumah ini dikenal memiliki ciri khas berupa ragam pahatan atau ukiran yang kaya makna filosofis dan menjadi identitas budaya masyarakat Besemah.

Rumah tatahan juga dikenal dengan sebutan rumah baghi berukir. Rumah adat ini dibangun berdasarkan adat istiadat Besemah dengan konsep rumah panggung, berbentuk bujur sangkar, serta terdiri atas empat ruang utama. Pada masa lampau, rumah ini difungsikan sebagai hunian, dan tempat perlindungan dari gempa oleh masyarakat Besemah.

Berikut penjelasan mengenai ciri khas, fungsi, dan makna filosofis dari rumah tatahan Sumsel. Simak hingga selesai, ya!

Dilansir dari laman Giwang Sumsel, rumah tatahan memiliki empat bagian pokok dengan fungsi masing-masing, yaitu:

Berfungsi sebagai ruang utama untuk menerima tamu, tempat berkumpul keluarga, serta pelaksanaan kegiatan adat dan musyawarah.

Digunakan sebagai tempat memasak dan aktivitas domestik sehari-hari. Bagian dapur biasanya terpisah dari ruang tengah untuk menjaga kebersihan dan keamanan.

Merupakan penghubung antara ruang tengah dan dapur. Gaghang berbentuk seperti gang atau lorong, berfungsi sebagai akses sirkulasi antarbagian rumah.

Berfungsi sebagai akses masuk ke rumah panggung. Tangga biasanya berada di bagian depan rumah dan menjadi elemen penting dalam struktur bangunan.

Ruang tengah rumah tatahan umumnya berbentuk segi empat dengan ukuran yang bervariasi, seperti 6 × 6 meter, 7 × 7 meter, atau 8 × 8 meter. Sementara itu, bagian dapur memiliki ukuran lebih kecil, sekitar 6 × 3 meter atau 6 × 4 meter.

Mengutip skripsi UIN Raden Fatah Palembang berjudul Pola Ragam Hias Ghumah Baghi di Desa Gunung Agung Pauh Kecamatan Dempo Utara Kota Pagaralam karya Irawansyah Putra, diketahui bahwa pada masa lampau rumah tatahan tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat aktivitas pribadi, sosial, dan adat masyarakat Besemah.

Rumah adat tatahan diperkirakan telah ada sejak 350-400 tahun yang lalu. Secara umum, rumah ini memiliki dua bangunan utama, yakni ruang tengah dan dapur, yang dihubungkan oleh gaghang. Dari tampak depan, susunan rumah akan terlihat terdiri atas tangga, ruang tengah, gaghang, dan dapur.

Ada beberapa ciri khas dari rumah tatahan yang membedakan dari rumah adat Sumsel lainnya, di antaranya:

Pada rumah tatahan, terdapat kiran adat Besemah pada bagian dinding dan struktur rumah. Setiap motif ukiran mengandung makna filosofis yang berkaitan dengan kehidupan, alam, dan nilai adat, serta sebagai penanda status sosial penghuni rumah.

Pondasi rumah tatahan, terbilang kuat dan memiliki daya tahan yang cukup panjang, karena menggunakan kayu pohon cemara.

Dibuat dari anyaman bambu yang ringan dan memiliki sirkulasi udara baik.

Umumnya menggunakan bahan alami, seperti ijuk atau sirap kayu, yang menyesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat.

Selain memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, rumah tatahan mempunyai fungsi khusus yakni:

Digunakan sebagai tempat tinggal keluarga untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Struktur rumah panggung dan penggunaan material alami membuat rumah tatahan lebih lentur dan relatif aman terhadap guncangan gempa.

Rumah tatahan menjadi simbol identitas budaya serta warisan arsitektur tradisional masyarakat Besemah yang bernilai historis dan edukatif.

Mengutip buku Bunga Rampai Budaya Sumatera Selatan Budaya Besemah di Kota Pagaralam, diketahui bahwa ragam hias di bagian tertentu pada rumah tatahan memiliki arti sebagai penanda status sosial penghuni rumah, diantaranya bermakna sebagai berikut:

Bagian Pondasi rumah tatahan berfungsi untuk, mengatur keseimbangan bangunan secara keseluruhan, sehingga menggambarkan kekuatan, keharmonisan hubungan dengan Tuhan dan lingkungan.

Anak tangga yang berjumlah ganjil seperti 5 atau 7 pada rumah tatahan, memiliki nama tersendir pada setiap anak tangganya yang dimulai urutan dari, taka, tangge, tunggu, dan tinggal, nama-nama tersebut memilik arti sebagai berikut:

Sementara itu, penamaan anak tangga tersebut bermakna sebagai doa dan harapan agar mendapatkan kemakmuran bagi penghuninya.

Rata-rata ukuran pintu rumah tatahan 63 m x 165 m, terpasang dengan ketinggian lebih rendah, sementara pada bagian bawah pintu disebut dengan dudukan, terpasang lebih tinggi dari lantai yang kerap disebut dengan bagian pelangkahan.

Makna dari ukuran pintu tersebut untuk memaksa setiap orang yang masuk harus menundukkan kepala. yang berarti menghormati tuan rumah. Dan makna lainnya berfungsi sebagai proteksi, atau perlindungan dari orang-orang yang datang secara tidak bersahabat.

Selain itu, terdapat sebuah lubang kecil pada pintu yang memungkinkan penghuni dapat melihat terlebih dahulu sosok tamu yang datang. Semisalnya tamu tersebut adalah perempuan, maka yang akan menyambut adalah istri atau anak perempuan. Hal tersebut dipengaruhi oleh adat singkuh yang berarti sungkan atau segan, ketika menerima tamu yang bukan muhrim atau yang beda jenis kelamin.

Ukiran utama pada rumah tatahan yang harus ada disebut dengan Mandale, warna ukiran tersebut hanya mengikuti warna alami pada kayu, dan juga kerap juga disebut dengan Bubulan. ukiran inilah yang mengandung arti motto hidup masyarakat besemah yaitu Nenek Besanak Seumur Denie, dan menggambarkan status sosial penghuni.

Hiasan ukiran ruma tatahan tersebut, terdapat pada bagian dinding depan, pintu masuk utama, dinding samping rumah, dan tiang utama bagian atas rumah. hiasan tersebut diukir langsung pada bagian rumah dengan motif dan bentuk yang mengacu pada alam, yaitu berupa mata angin, gelombang samudera, kumpulan daun sirih, rangkaian bunga, bunga roda pedati, kincir angin, tunas bambu, daun pakis, dan bunga melur atau melati.

Ukiran tanaman pada Rumah Baghi tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi mengandung nilai filosofis yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Besemah.

Melambangkan kehidupan, kesuburan, dan keberlanjutan. Sulur yang menjalar menggambarkan harapan agar kehidupan keluarga terus berkembang dan tidak terputus dari generasi ke generasi.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Mengandung makna kesejukan, kedamaian, dan keharmonisan hidup. Daun yang tersusun rapi mencerminkan tatanan kehidupan masyarakat yang menjunjung keseimbangan antara manusia dan alam.

Dimaknai sebagai simbol kemakmuran, keindahan, dan kebahagiaan. Bunga yang mekar melambangkan harapan agar penghuni rumah memperoleh rezeki, keselamatan, dan kesejahteraan.

Menggambarkan kebersamaan dan keterikatan sosial, yakni hubungan antaranggota keluarga dan masyarakat yang saling terhubung dan saling menguatkan

Nah infoers, itulah ulasan mengenai rumah adat tatahan sumsel, lengkap dengan ciri khas, fungsi, dan makna filosofisnya. Semoga bermanfaat ya!

Artikel ini ditulis oleh Aldekum Fatih Rajih, peserta magang Prima PTKI Kementerian Agama RI.

Empat Bagian Utama Rumah Tatahan

1. Ruang Tengah

2. Dapur

3. Gaghang

4. Tangga

Dimensi Bangunan Rumah Tatahan

Ciri Khas Rumah Tatahan

Ciri khas Rumah Tatahan

1. Memiliki ukiran khas

2. Pondasi yang Awet

3. Dinding Rumah

4. Atap Rumah

Fungsi Rumah Tatahan

1. Hunian Pribadi

2. Perlindungan dari Gempa

3. Warisan Budaya Besemah

Makna Filosofi Rumah Tatahan

1. Pondasi Utama

2. Jumlah Anak Tangga

3. Memiliki Pintu yang Lebih Rendah

Arti Hiasan Ukiran pada Rumah Tatahan

Makna Filosofis Tanaman pada Ukiran Rumah Tatahan

1. Motif Bunga dan Sulur Tanaman

2. Motif Daun-daunan

3. Motif Bunga Mekar

4. Motif Tumbuhan Menjalar

Mengutip skripsi UIN Raden Fatah Palembang berjudul Pola Ragam Hias Ghumah Baghi di Desa Gunung Agung Pauh Kecamatan Dempo Utara Kota Pagaralam karya Irawansyah Putra, diketahui bahwa pada masa lampau rumah tatahan tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat aktivitas pribadi, sosial, dan adat masyarakat Besemah.

Rumah adat tatahan diperkirakan telah ada sejak 350-400 tahun yang lalu. Secara umum, rumah ini memiliki dua bangunan utama, yakni ruang tengah dan dapur, yang dihubungkan oleh gaghang. Dari tampak depan, susunan rumah akan terlihat terdiri atas tangga, ruang tengah, gaghang, dan dapur.

Ada beberapa ciri khas dari rumah tatahan yang membedakan dari rumah adat Sumsel lainnya, di antaranya:

Pada rumah tatahan, terdapat kiran adat Besemah pada bagian dinding dan struktur rumah. Setiap motif ukiran mengandung makna filosofis yang berkaitan dengan kehidupan, alam, dan nilai adat, serta sebagai penanda status sosial penghuni rumah.

Pondasi rumah tatahan, terbilang kuat dan memiliki daya tahan yang cukup panjang, karena menggunakan kayu pohon cemara.

Dibuat dari anyaman bambu yang ringan dan memiliki sirkulasi udara baik.

Umumnya menggunakan bahan alami, seperti ijuk atau sirap kayu, yang menyesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat.

Ciri Khas Rumah Tatahan

Ciri khas Rumah Tatahan

1. Memiliki ukiran khas

2. Pondasi yang Awet

3. Dinding Rumah

4. Atap Rumah

Selain memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, rumah tatahan mempunyai fungsi khusus yakni:

Digunakan sebagai tempat tinggal keluarga untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Struktur rumah panggung dan penggunaan material alami membuat rumah tatahan lebih lentur dan relatif aman terhadap guncangan gempa.

Rumah tatahan menjadi simbol identitas budaya serta warisan arsitektur tradisional masyarakat Besemah yang bernilai historis dan edukatif.

Mengutip buku Bunga Rampai Budaya Sumatera Selatan Budaya Besemah di Kota Pagaralam, diketahui bahwa ragam hias di bagian tertentu pada rumah tatahan memiliki arti sebagai penanda status sosial penghuni rumah, diantaranya bermakna sebagai berikut:

Bagian Pondasi rumah tatahan berfungsi untuk, mengatur keseimbangan bangunan secara keseluruhan, sehingga menggambarkan kekuatan, keharmonisan hubungan dengan Tuhan dan lingkungan.

Anak tangga yang berjumlah ganjil seperti 5 atau 7 pada rumah tatahan, memiliki nama tersendir pada setiap anak tangganya yang dimulai urutan dari, taka, tangge, tunggu, dan tinggal, nama-nama tersebut memilik arti sebagai berikut:

Sementara itu, penamaan anak tangga tersebut bermakna sebagai doa dan harapan agar mendapatkan kemakmuran bagi penghuninya.

Rata-rata ukuran pintu rumah tatahan 63 m x 165 m, terpasang dengan ketinggian lebih rendah, sementara pada bagian bawah pintu disebut dengan dudukan, terpasang lebih tinggi dari lantai yang kerap disebut dengan bagian pelangkahan.

Makna dari ukuran pintu tersebut untuk memaksa setiap orang yang masuk harus menundukkan kepala. yang berarti menghormati tuan rumah. Dan makna lainnya berfungsi sebagai proteksi, atau perlindungan dari orang-orang yang datang secara tidak bersahabat.

Selain itu, terdapat sebuah lubang kecil pada pintu yang memungkinkan penghuni dapat melihat terlebih dahulu sosok tamu yang datang. Semisalnya tamu tersebut adalah perempuan, maka yang akan menyambut adalah istri atau anak perempuan. Hal tersebut dipengaruhi oleh adat singkuh yang berarti sungkan atau segan, ketika menerima tamu yang bukan muhrim atau yang beda jenis kelamin.

Fungsi Rumah Tatahan

1. Hunian Pribadi

2. Perlindungan dari Gempa

3. Warisan Budaya Besemah

Makna Filosofi Rumah Tatahan

1. Pondasi Utama

2. Jumlah Anak Tangga

3. Memiliki Pintu yang Lebih Rendah

Ukiran utama pada rumah tatahan yang harus ada disebut dengan Mandale, warna ukiran tersebut hanya mengikuti warna alami pada kayu, dan juga kerap juga disebut dengan Bubulan. ukiran inilah yang mengandung arti motto hidup masyarakat besemah yaitu Nenek Besanak Seumur Denie, dan menggambarkan status sosial penghuni.

Hiasan ukiran ruma tatahan tersebut, terdapat pada bagian dinding depan, pintu masuk utama, dinding samping rumah, dan tiang utama bagian atas rumah. hiasan tersebut diukir langsung pada bagian rumah dengan motif dan bentuk yang mengacu pada alam, yaitu berupa mata angin, gelombang samudera, kumpulan daun sirih, rangkaian bunga, bunga roda pedati, kincir angin, tunas bambu, daun pakis, dan bunga melur atau melati.

Ukiran tanaman pada Rumah Baghi tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi mengandung nilai filosofis yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Besemah.

Melambangkan kehidupan, kesuburan, dan keberlanjutan. Sulur yang menjalar menggambarkan harapan agar kehidupan keluarga terus berkembang dan tidak terputus dari generasi ke generasi.

Mengandung makna kesejukan, kedamaian, dan keharmonisan hidup. Daun yang tersusun rapi mencerminkan tatanan kehidupan masyarakat yang menjunjung keseimbangan antara manusia dan alam.

Dimaknai sebagai simbol kemakmuran, keindahan, dan kebahagiaan. Bunga yang mekar melambangkan harapan agar penghuni rumah memperoleh rezeki, keselamatan, dan kesejahteraan.

Menggambarkan kebersamaan dan keterikatan sosial, yakni hubungan antaranggota keluarga dan masyarakat yang saling terhubung dan saling menguatkan

Nah infoers, itulah ulasan mengenai rumah adat tatahan sumsel, lengkap dengan ciri khas, fungsi, dan makna filosofisnya. Semoga bermanfaat ya!

Artikel ini ditulis oleh Aldekum Fatih Rajih, peserta magang Prima PTKI Kementerian Agama RI.

Arti Hiasan Ukiran pada Rumah Tatahan

Makna Filosofis Tanaman pada Ukiran Rumah Tatahan

1. Motif Bunga dan Sulur Tanaman

2. Motif Daun-daunan

3. Motif Bunga Mekar

4. Motif Tumbuhan Menjalar