Tugu Ikan Belido menjadi magnet utama wisata di Kota Palembang. Di balik itu, tersimpan narasi sejarah yang mendalam bagi masyarakat setempat.
Pengunjung dapat berjumpa dengan Tugu Ikan Belido ketika mampir ke Benteng Kuto Besak (BKB). Berdiri kokoh di tepian Sungai Musi, monumen ini bukan sekadar hiasan kota, melainkan simbol identitas Sumsel yang sarat akan makna.
Kehadiran Tugu Ikan Belido merupakan penghormatan terhadap ekosistem asli sungai air tawar, khususnya Sungai Musi. Penasaran bagaimana proses pembangunannya hingga menjadi maskot kebanggaan? Berikut infoSumbagsel rangkum fakta menariknya.
Belida atau dalam bahasa Palembang belido merupakan ikan purba yang termasuk dalam famili Notopteridae (ikan punggung pisau). Dikutip skripsi berjudul Tugu Ikan Belido Sebagai Sumber Ide Penciptaan Karya Keramik Tableware oleh Iffatun Nisa, ikan belido adalah primadona sekaligus bahan baku utama dalam pembuatan kuliner khas seperti pempek dan kemplang.
Namun, seiring berjalannya waktu, populasi ikan ini kian menyusut hingga akhirnya menyandang status dilindungi. Untuk mengenang dan melestarikannya, pemerintah Kota Palembang membangun Tugu Ikan Belida.
Struktur tugu yang tampil gagah dengan pancuran air dari mulutnya ini sekilas mengingatkan kita pada ikon Merlion di Singapura. Namun, di balik kemiripan visual tersebut, ada nilai historis yang jauh lebih kuat.
Merujuk pada penelitian tentang ikonografi kota, sosok di balik keindahan Tugu Ikan Belido adalah Muhammad Mustafid Ammena. Ia seorang seniman berbakat asal Boyolali, Jawa Tengah.
Meski dirancang oleh seniman luar daerah, proses perakitan dilakukan di Kota Palembang. Tujuan untuk memastikan setiap detail bangunan tugu bisa presisi dan sesuai dengan karakter lokal.
Berikut adalah spesifikasi teknis dari maha karya tersebut:
Proses pengerjaannya dimulai sejak November 2016 dan rampung pada September 2017. Tak lama berselang, tepatnya pada 11 Februari 2018, tugu ini diresmikan oleh Harnojoyo, Wali Kota Palembang saat itu, bersama jajaran direksi PT Bukit Asam. Sentuhan lokal pun tidak dilupakan; bagian pondasi tugu dihiasi dengan ornamen motif Songket Palembang, menegaskan perpaduan antara kearifan lokal dan estetika modern.
Pemilihan ikan belido sebagai subjek utama tugu bukanlah tanpa alasan. Ada nilai sosiologis dan simbolis yang melekat pada ikan dengan bentuk unik.
Sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam, ikan belido dianggap sebagai “Raja Sungai”. Populasi yang melimpah di masa silam menjadi indikator ekosistem Sungai Musi masih sehat dan kaya makhluk hidup.
Adanya tugu tersebut menjadi salah satu cara Palembang merayakan kejayaan sumber daya alam. Belido melambangkan kemakmuran yang mengartikan area Sungai Musi adalah kawasan yang subur di mana airnya mampu menghidupi masyarakat dengan melimpah.
Ikan belido adalah pondasi dari kebudayaan kuliner Sumsel. Secara filosofis, Tugu Ikan Belido mewakili karakter orang Palembang yang kreatif. Hal itu terbukti dari kemampuan mengolah kekayaan alam berupa ikan menjadi sesuatu yang bernilai tinggi dan dikenal hingga mancanegara.
Tugu ini adalah monumen sekaligus identitas Kota Palembang yang mengingat kepada kekayaan alam di Sungai Musi, terutama ikan belido.
Ikan belido dikenal sebagai ikan yang tangguh dan memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa di perairan sungai yang dinamis. Bentuk tubuhnya yang pipih dan melengkung seperti pisau memungkinkan ia bergerak lincah.
Hal ini merepresentasikan semangat masyarakat Palembang yang gigih, tangguh dalam menghadapi arus zaman. Namun, tetap memiliki kelenturan dalam beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Pembuatan Tugu Ikan Belido mengandung filosofi sebagai pengingat atau alarm visual. Berbeda dengan Tugu Merlion yang bersifat mitologi, Tugu Ikan Belido adalah representasi makhluk nyata yang kini terancam punah.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 Tahun 2021, ikan belido kini berstatus dilindungi penuh. Artinya, menangkap, mengonsumsi, hingga memperjualbelikannya adalah perbuatan ilegal.
Hingga saat ini, Tugu Ikan Belido telah berdiri selama kurang lebih 7 tahun di tepian Sungai Musi. Ia bukan sekadar objek foto bagi wisatawan, melainkan prasasti yang menjaga memori kolektif warga tentang kekayaan hayati daerahnya.
Dengan mengunjungi dan menjaga kebersihan di sekitar tugu ini, pengunjung turut menghargai sejarah dan identitas Kota Palembang yang berdiri di tepi Sungai Musi.
Itulah sejarah berdirinya Tugu Ikan Belido yang menjadi magnet wisata Kota Palembang. Semoga bermanfaat, ya!
Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.







