Sumsel Matangkan Health Tourism, Bidik Pasar Wisata Medis Lokal

Posted on

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mematangkan peluncuran Sumsel Health Tourism untuk mengintegrasikan layanan medis unggulan, wisata, dan kebugaran dalam satu paket terpadu, sekaligus mendorong masyarakat memilih berobat di dalam negeri. Program ini dibahas dalam Rapat koordinasi lintas sektor yang digelar di Palembang, Senin (19/1/2026).

Kepala Dinas Kesehatan Sumsel, Trisnawarman, mengatakan Sumsel Health Tourism dirancang untuk menampilkan kekuatan layanan kesehatan daerah yang ditopang rumah sakit berkompetensi unggul dan tenaga medis yang terus ditingkatkan kualitasnya. Baik dari sisi sarana prasarana maupun peningkatan kompetensi tenaga medis.

“Rumah sakit kita banyak menyekolahkan SDM untuk mengambil spesialis, subspesialis, dan fellowship. Ke depan rumah sakit berbasis kompetensi, sehingga setiap rumah sakit berlomba menguatkan keunggulannya,” jelas Trisnawarman kepada wartawan, Senin (19/1/2026).

Trisnawarman mengakui, pemenuhan tenaga kesehatan dilakukan bertahap sesuai perencanaan kebutuhan setiap tahun, namun hal tersebut tidak mengurangi optimisme pemerintah daerah untuk mewujudkan misi besar pengembangan wisata kesehatan.

“Ini memang tidak bisa instan, tapi misi besar ini harus kita wujudkan bersama. Peran media juga penting untuk membumikan informasi agar masyarakat Sumsel dan daerah sekitar tahu bahwa kita punya layanan kesehatan yang andal,” katanya.

Dalam konsep Sumsel Health Tourism, pasien diposisikan sebagai wisatawan yang memperoleh layanan medis sekaligus kenyamanan dan pengalaman berwisata. Selama proses pengobatan di Palembang, pasien akan diarahkan menikmati wisata kuliner, belanja, hingga destinasi sejarah dan budaya, termasuk paket wellness ke daerah lain seperti Pagaralam melalui pendampingan pemandu wisata.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, layanan yang paling banyak dicari masyarakat Indonesia saat berobat ke luar negeri adalah medical check-up dan penanganan penyakit jantung.

Sumsel sendiri telah memiliki dokter spesialis jantung dan fasilitas penunjang di sejumlah rumah sakit besar, seperti RSUP Dr. Mohammad Hoesin dan RS Siti Fatimah. Kemudian akan terus dilengkapi untuk mendukung layanan wisata medis dan VVIP di luar skema BPJS, dengan biaya yang kompetitif dibanding luar negeri.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel Edward Chandra mengatakan, rapat yang digelar hari ini menjadi langkah penting untuk menyatukan visi seluruh pemangku kepentingan agar program unggulan itu benar-benar siap sebelum diluncurkan secara resmi.

“Hari ini kita mengumpulkan seluruh stakeholder, mulai dari pemerintah, pimpinan rumah sakit, pelaku wisata, UMKM, hingga penggiat media sosial, untuk menyatukan visi Sumsel Health Tourism. Persiapan ini harus betul-betul matang,” kata Edward.

Edward menegaskan, pengembangan wisata kesehatan di Sumsel tidak semata mengejar status rumah sakit wisata medis dari Kementerian Kesehatan, tetapi mendorong seluruh unit layanan kesehatan dan kebugaran untuk terintegrasi dengan sektor pariwisata.

“Tidak hanya rumah sakit yang nanti mendapat SK Menteri, semua kita dorong memberi pelayanan terbaik dan terintegrasi dengan wisata. Ini yang menjadi kekuatan Sumsel Health Tourism,” ujarnya.

Menurutnya, Sumatera Selatan memiliki modal kuat berupa tenaga medis berkualitas, layanan spesialistik seperti jantung, medical check-up, hingga ortopedi, yang dikombinasikan dengan kekayaan budaya, kuliner, dan destinasi wisata. Tantangannya adalah bagaimana keunggulan tersebut dikemas menjadi pengalaman layanan yang setara bahkan lebih kompetitif dibanding luar negeri.

Pemprov Sumsel menargetkan tahun ini dapat mengajukan rumah sakit wisata medis ke Kementerian Kesehatan, sekaligus menjadikan Sumatera Selatan sebagai rujukan wisata kesehatan di Pulau Sumatera bagian selatan, seiring rencana peluncuran resmi Sumsel Health Tourism dalam waktu dekat.

Artikel ini ditulis oleh Mutiara Helia Praditha peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.