Provinsi Lampung tidak hanya terkenal dengan keindahan pantai dan sambal seruitnya. Di balik garis pantai yang membentang di pesisir Lampung terdapat tradisi spiritual Ngumbai Lawok atau ‘mencuci laut’.
Tradisi yang dijaga turun-temurun ini tidak hanya sekadar pesta pantai biasa, melainkan cara suku Lampung Saibatin mengungkapkan rasa terima kasih kepada laut, serta sebagai media silaturahmi antara masyarakat yang ada di pesisir.
Penasaran tentang tradisi ini? Berikut infoSumbagsel ulas penjelasan lengkapnya. Yuk, simak!
Secara bahasa, ngumbai berarti membersihkan atau mencuci sedangkan Lawok berarti laut. Ngumbai Lawok adalah tradisi untuk membersihkan laut sebagai bentuk rasa syukur kepada alam, sebab laut merupakan sumber kehidupan utama.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Laut telah memberi makan untuk warga serta menjadi sumber mata pencaharian setiap hari. Karena itu, menjaga laut dengan cara melakukan ritual adalah cinta kasih masyarakat setempat untuk memelihara apa yang semesta berikan.
Hal itu tertulis dalam penelitian berjudul “Kearifan lokal Masyarakat Lampung: Studi Atas Tradisi Ngumbai Lawok dan Kontribusinya terhadap Pariwisata di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung,” yang dilakukan oleh Idrus Ruslan Dkk.
Berdasarkan literasi tersebut, selain menjadi bentuk kearifan lokal bagi masyarakat, ritual Ngumbai Lawok juga berfungsi untuk memberikan keselamatan terutama bagi nelayan. Tradisi ini merupakan alat untuk mempererat tali silaturahmi antar para pencari ikan.
Meski terlihat seperti acara syukuran biasa, Ngumbai Lawok tidak dilakukan sembarangan. Ada urutan prosesi yang harus melibatkan setiap elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemerintah daerah hingga masyarakat terutama para nelayan. Berikut urutannya:
Langkah pertama dan yang paling inti dari ritual ini adalah pengorbanan satu kerbau, seekor kerbau yang sehat disembelih sebagai simbol pengorbanan. Uniknya daging kerbau akan dimasak dan menjadi santapan bagi masyarakat, sedangkan kepalanya akan dilarung ke tengah laut.
Biasanya sebelum pelepasan kepala kerbau, masyarakat akan melakukan pementasan seni seperti tayuban dan tari-tarian sebagai pembuka. Namun, sayangnya kini prosesi ini jarang sekali dilakukan dan diganti dengan pentas dangdut atau organ tunggal.
Kepala kerbau yang telah dibersihkan diletakan diatas kapal hias menggunakan ornamen-ornamen pelengkap, seperti kain tapis dan janur kuning yang diikatkan pada kapal. Beberapa kapal nelayan lain ikut membelakangi kapal hias tersebut. Hal ini menciptakan pemandangan indah di tengah laut Lampung.
Setelah kapal sampai ke titik yang dianggap sakral oleh tokoh adat, Kepala kerbau tersebut dilepaskan ke tengah laut sebagai sedekah, momen ini akan menghadirkan suasana mistis. Sebab, akan ada iringan doa yang akan dipanjatkan oleh tetua adat dengan menggunakan bahasa asli lampung.
Setelah kepala kerbau tenggelam, biasanya masyarakat akan memperebutkannya, sebab diyakini akan membawa berkah dan keberuntungan bagi yang mendapatkannya.
Sesaji tersebut hanya boleh diperebutkan jika sudah tenggelam, sebab ini merupakan tanda bahwa sedekah yang diberikan oleh masyarakat sudah diterima oleh penguasa laut.
Setelah prosesi berakhir, masyarakat akan saling menyemburkan air. Siapapun yang terkena semburan tidak boleh marah. Ritual ini dipercaya akan membawa rezeki, serta diyakini juga dapat membawa berkah yang berlimpah.
Terakhir, setelah seluruh acara selesai, masyarakat akan meninggalkan daerah pesisir dan melakukan cuak mangan atau makan-makan bersama dengan daging kerbau yang sudah dikorbankan sebelumnya.
Dibalik kesan mistis dan sakral, tradisi ini menyimpan beberapa makna tersendiri. Salah satunya yakni masyarakat diingatkan untuk tidak serakah dan mengambil hasil laut secara berlebihan.
Tradisi ini diibaratkan sebagai alat komunikasi antara nelayan dan alam agar ekosistem laut tetap terjaga. Meski sempat menimbulkan perdebatan antara kalangan masyarakat sebab dinilai sebagai kegiatan musyrik.
Mereka beralasan karena adanya pelarungan kepala kerbau dan sesaji ke laut sebagai persembahan. Namun, beberapa masyarakat mengambil sisi positif yaitu menjadikan ritual sebagai ajang silaturahmi bagi warga dan bersedekah untuk menjemput rezeki bagi para nelayan.
Seiring berkembangnya zaman, tradisi Ngumbai Lawok sekarang seringkali diiringi dengan beberapa aksi nyata seperti melepaskan anak penyu ke laut, menanam pohon mangrove, dan pembersihan sampah di sekitar pesisir pantai Lampung.
Tradisi ini memiliki nilai pengorbanan layaknya kurban bagi Umat Islam, dengan melakukan ini masyarakat menyisihkan sebagian rezekinya untuk menyiapkan persembahan serta bersedekah untuk cuak mangan atau makan-makan bersama para masyarakat maritim.
Jika dulunya tradisi ini hanya diketahui oleh masyarakat lokal saja, kini Ngumbai Lawok menjadi agenda rutin dalam kalender pariwisata di Provinsi Lampung, sama halnya dengan festival krui dan festival Pesawaran.
Tradisi ini dilakukan setiap satu tahun sekali dan masuk kedalam agenda pariwisata bagi masyarakat setempat. Jika infoers ini mencoba pengalaman baru dengan menyaksikan Ngumbai Lawok. berikut beberapa hal yang harus kamu perhatikan:
Ritual ini dilakukan di waktu-waktu tertentu, seperti hari raya atau peringatan hari jadi daerah-daerah pesisir Lampung seperti Parameswaran, Pesisir Barat atau Lampung Selatan.
Untuk menghormati ritual yang sakral dan tradisi masyarakat lokal, gunakan pakaian yang sopan dan tertutup.
Untuk mengikuti prosesi ini infoers harus siap dengan cuaca dan panas terik yang ada di pesisir pantai. Bisa siapkan minuman penambah imun atau alat-alat pelengkap seperti topi, kipas kecil atau jaket tipis.
Ngumbai Lawok bukan hanya tradisi biasa di Provinsi Lampung. Namun, juga sebuah kearifan lokal yang harus dilestarikan. Hubungan antara ritual, pelestarian, hingga silaturahmi antar masyarakat merupakan aset yang harus terus bersinar di tengah era modernisasi.
Menjaga tradisi Ngumbai Lawok berarti menjaga identitas bagi masyarakat lokal dan sekaligus memastikan bahwa ekosistem laut tetap terjaga.
Nah, itulah penjelasan mengenai tradisi Ngumbai Lawok, Semoga Bermanfaat, jangan lupa datang untuk melihat langsung prosesnya ya infoers!
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris Mahasiswa Magang Prima PTKI Kementerian Agama.
Apa itu Ngumbai Lawok?
Prosesi Ritual Ngumbai Lawok
1. Penyembelihan Kerbau
2. Arak-arakan Kapal Hias
3. Larungan atau Sedekah Laut
Nilai Filosofi Ngumbai Lawok
Tips Bagi Wisatawan yang Ingin Menyaksikan Ngumbai Lawok
1. Cek Jadwal Tahunan
2. Gunakanlah Pakaian yang Sopan
3. Siapkan Imun dan Stamina
Meski terlihat seperti acara syukuran biasa, Ngumbai Lawok tidak dilakukan sembarangan. Ada urutan prosesi yang harus melibatkan setiap elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemerintah daerah hingga masyarakat terutama para nelayan. Berikut urutannya:
Langkah pertama dan yang paling inti dari ritual ini adalah pengorbanan satu kerbau, seekor kerbau yang sehat disembelih sebagai simbol pengorbanan. Uniknya daging kerbau akan dimasak dan menjadi santapan bagi masyarakat, sedangkan kepalanya akan dilarung ke tengah laut.
Biasanya sebelum pelepasan kepala kerbau, masyarakat akan melakukan pementasan seni seperti tayuban dan tari-tarian sebagai pembuka. Namun, sayangnya kini prosesi ini jarang sekali dilakukan dan diganti dengan pentas dangdut atau organ tunggal.
Kepala kerbau yang telah dibersihkan diletakan diatas kapal hias menggunakan ornamen-ornamen pelengkap, seperti kain tapis dan janur kuning yang diikatkan pada kapal. Beberapa kapal nelayan lain ikut membelakangi kapal hias tersebut. Hal ini menciptakan pemandangan indah di tengah laut Lampung.
Setelah kapal sampai ke titik yang dianggap sakral oleh tokoh adat, Kepala kerbau tersebut dilepaskan ke tengah laut sebagai sedekah, momen ini akan menghadirkan suasana mistis. Sebab, akan ada iringan doa yang akan dipanjatkan oleh tetua adat dengan menggunakan bahasa asli lampung.
Setelah kepala kerbau tenggelam, biasanya masyarakat akan memperebutkannya, sebab diyakini akan membawa berkah dan keberuntungan bagi yang mendapatkannya.
Sesaji tersebut hanya boleh diperebutkan jika sudah tenggelam, sebab ini merupakan tanda bahwa sedekah yang diberikan oleh masyarakat sudah diterima oleh penguasa laut.
Setelah prosesi berakhir, masyarakat akan saling menyemburkan air. Siapapun yang terkena semburan tidak boleh marah. Ritual ini dipercaya akan membawa rezeki, serta diyakini juga dapat membawa berkah yang berlimpah.
Terakhir, setelah seluruh acara selesai, masyarakat akan meninggalkan daerah pesisir dan melakukan cuak mangan atau makan-makan bersama dengan daging kerbau yang sudah dikorbankan sebelumnya.
Prosesi Ritual Ngumbai Lawok
1. Penyembelihan Kerbau
2. Arak-arakan Kapal Hias
3. Larungan atau Sedekah Laut
Dibalik kesan mistis dan sakral, tradisi ini menyimpan beberapa makna tersendiri. Salah satunya yakni masyarakat diingatkan untuk tidak serakah dan mengambil hasil laut secara berlebihan.
Tradisi ini diibaratkan sebagai alat komunikasi antara nelayan dan alam agar ekosistem laut tetap terjaga. Meski sempat menimbulkan perdebatan antara kalangan masyarakat sebab dinilai sebagai kegiatan musyrik.
Mereka beralasan karena adanya pelarungan kepala kerbau dan sesaji ke laut sebagai persembahan. Namun, beberapa masyarakat mengambil sisi positif yaitu menjadikan ritual sebagai ajang silaturahmi bagi warga dan bersedekah untuk menjemput rezeki bagi para nelayan.
Seiring berkembangnya zaman, tradisi Ngumbai Lawok sekarang seringkali diiringi dengan beberapa aksi nyata seperti melepaskan anak penyu ke laut, menanam pohon mangrove, dan pembersihan sampah di sekitar pesisir pantai Lampung.
Tradisi ini memiliki nilai pengorbanan layaknya kurban bagi Umat Islam, dengan melakukan ini masyarakat menyisihkan sebagian rezekinya untuk menyiapkan persembahan serta bersedekah untuk cuak mangan atau makan-makan bersama para masyarakat maritim.
Jika dulunya tradisi ini hanya diketahui oleh masyarakat lokal saja, kini Ngumbai Lawok menjadi agenda rutin dalam kalender pariwisata di Provinsi Lampung, sama halnya dengan festival krui dan festival Pesawaran.
Nilai Filosofi Ngumbai Lawok
Tradisi ini dilakukan setiap satu tahun sekali dan masuk kedalam agenda pariwisata bagi masyarakat setempat. Jika infoers ini mencoba pengalaman baru dengan menyaksikan Ngumbai Lawok. berikut beberapa hal yang harus kamu perhatikan:
Ritual ini dilakukan di waktu-waktu tertentu, seperti hari raya atau peringatan hari jadi daerah-daerah pesisir Lampung seperti Parameswaran, Pesisir Barat atau Lampung Selatan.
Untuk menghormati ritual yang sakral dan tradisi masyarakat lokal, gunakan pakaian yang sopan dan tertutup.
Untuk mengikuti prosesi ini infoers harus siap dengan cuaca dan panas terik yang ada di pesisir pantai. Bisa siapkan minuman penambah imun atau alat-alat pelengkap seperti topi, kipas kecil atau jaket tipis.
Ngumbai Lawok bukan hanya tradisi biasa di Provinsi Lampung. Namun, juga sebuah kearifan lokal yang harus dilestarikan. Hubungan antara ritual, pelestarian, hingga silaturahmi antar masyarakat merupakan aset yang harus terus bersinar di tengah era modernisasi.
Menjaga tradisi Ngumbai Lawok berarti menjaga identitas bagi masyarakat lokal dan sekaligus memastikan bahwa ekosistem laut tetap terjaga.
Nah, itulah penjelasan mengenai tradisi Ngumbai Lawok, Semoga Bermanfaat, jangan lupa datang untuk melihat langsung prosesnya ya infoers!
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris Mahasiswa Magang Prima PTKI Kementerian Agama.







