Indonesia memang kaya akan tradisi yang sangat erat kaitannya dengan alam dan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Salah satu permata budaya yang masih dijaga dengan sangat baik hingga saat ini adalah Upacara Kumau. Bagi infoers yang belum tahu, tradisi ini merupakan warisan turun-temurun dari masyarakat Kerinci di Provinsi Jambi.
Upacara Kumau bukan sekadar perayaan biasa. Ini adalah sebuah ritual sakral yang menjadi tanda dimulainya musim tanam padi. Melalui artikel ini, mari kita menyelami lebih dalam mengenai makna, prosesi, dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi unik kebanggaan warga Jambi ini.
Berikut, infoSumbagsel kupas tuntas mengenai Tradisi Upacara Kumau Khas Masyarakat Jambi. Yuk simak!
Secara harfiah, Kumau berasal dari kata Manjau yang berarti berkunjung atau mendatangi. Dalam konteks budaya Kerinci, Upacara Kumau adalah momen di mana seluruh masyarakat berkumpul bersama di sawah atau lapangan terbuka untuk memanjatkan doa sebelum mereka mulai mencangkul tanah.
infoers perlu tahu bahwa masyarakat Kerinci sangat menjunjung tinggi keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Upacara ini menjadi simbol permohonan izin kepada alam agar tanah yang digarap menjadi subur, terhindar dari hama, dan menghasilkan panen yang melimpah untuk menghidupi keluarga dan desa.
Hal ini sejalan dengan penelitian dalam jurnal berjudul Tradisi Kenduri Sko dan Upacara Kumau dalam Perspektif Nilai Budaya Masyarakat Kerinci karya Ahmad Fauzi, yang menyebutkan bahwa tradisi ini adalah bentuk identitas budaya yang memperkuat ikatan batin masyarakat dengan tanah ulayat mereka.
Tradisi ini biasanya dilakukan satu kali dalam setahun, tepatnya sesaat sebelum musim penghujan tiba atau saat air mulai masuk ke area persawahan. Karena jadwal tanam di setiap daerah bisa berbeda, waktu pelaksanaan Upacara Kumau pun mengikuti kesepakatan para tokoh adat dan pemuka agama setempat.
Upacara Kumau tidak dilakukan secara sembarangan. Ada tata cara yang sudah baku dan diikuti sejak ratusan tahun lalu. Berikut adalah tahapan yang biasanya dilalui oleh warga Jambi dalam melaksanakan tradisi ini.
Sebelum acara dimulai, para tetua adat atau yang disebut dengan Depati-Ninik Mamak akan berkumpul. Mereka menentukan hari baik untuk pelaksanaan ritual berdasarkan pengamatan benda langit dan tanda alam.
Warga akan gotong royong menyiapkan berbagai perlengkapan ritual. Menurut Lestari Wahyuni dalam jurnalnya yang berjudul Simbolisme Alam dalam Upacara Adat Kumau di Provinsi Jambi, setiap elemen seperti nasi ketan dan air doa memiliki makna filosofis sebagai pembersih niat dan simbol kesuburan.
Seluruh warga desa akan berjalan bersama menuju lokasi. Di sana, pemimpin adat akan memimpin doa. Momen paling ikonik adalah ketika para petani melakukan gerakan mencangkul pertama secara bersamaan. Hal ini menandakan bahwa masa istirahat tanah telah berakhir.
Setelah doa selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Kebersamaan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar warga desa tanpa memandang status sosial.
Filosofi dalam Upacara Kumau bukan sekadar soal menanam padi, tapi lebih kepada pandangan hidup masyarakat Jambi yang sangat dalam. Jika infoers perhatikan, ada tiga hubungan utama yang dijaga dalam tradisi ini, yaitu hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan alam, dan hubungan dengan sesama manusia.
Masyarakat Jambi, khususnya di Kerinci, percaya bahwa manusia hanya bisa berusaha, namun hasil akhirnya ada di tangan Yang Maha Kuasa. Upacara Kumau adalah bentuk izin kepada Sang Pencipta. Sebelum tanah disentuh oleh cangkul, doa-doa dipanjatkan agar usaha mereka diberkahi. Filosofinya adalah kerendahan hati; bahwa sehebat apa pun teknik bertani manusia, mereka tetap membutuhkan restu dari langit.
Dalam tradisi ini, tanah dan air tidak dianggap sebagai benda mati atau alat produksi semata. Tanah dianggap sebagai sumber kehidupan yang perlu dibangunkan dengan lembut.
Gerakan Mencangkul Pertama melambangkan dimulainya kembali interaksi antara manusia dengan bumi dan Ada waktu di mana tanah harus istirahat, dan ada waktu di mana tanah harus bekerja. Filosofinya adalah keseimbangan; jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita.
Salah satu nilai paling kuat dalam Upacara Kumau adalah keserempakan. Tidak boleh ada petani yang turun ke sawah lebih dulu atau belakangan sebelum ritual dilakukan.
Upacara ini mengajarkan infoers tentang pentingnya mengikuti aturan dan menghormati pemimpin atau yang lebih dikenal dengan nama Depati-Ninik Mamak.
Masyarakat belajar bahwa hidup yang teratur dan mengikuti aturan adat akan membawa pada ketenteraman desa. Filosofinya adalah kepatuhan pada tatanan, yang menjaga masyarakat dari kekacauan atau egoisme pribadi.
Singkatnya, filosofi Upacara Kumau adalah tentang keselarasan. Masyarakat Jambi percaya bahwa jika hubungan dengan Tuhan baik, hubungan dengan alam terjaga, dan hubungan antar warga rukun, maka kesejahteraan dan panen yang melimpah akan datang dengan sendirinya.
Mungkin infoers bertanya-tanya, mengapa di zaman traktor mesin ini tradisi Kumau masih bertahan? Jawabannya ditemukan dalam jurnal yang berjudul Eksistensi Ritual Kumau di Tengah Modernisasi Pertanian karya Hendra Gunawan. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa bagi petani Jambi, Kumau adalah penyemangat spiritual yang tidak bisa digantikan oleh mesin secanggih apa pun.
Upacara Kumau adalah bukti nyata bahwa masyarakat Jambi sangat menghargai bumi yang mereka pijak. Ini bukan sekadar ritual menyambut musim tani, melainkan sebuah perayaan kehidupan, kebersamaan, dan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta.
Dengan memahami makna di balik Upacara Kumau, kita belajar bahwa keberhasilan sebuah usaha selalu dimulai dengan doa, harmoni dengan alam, dan dukungan dari sesama manusia.
Bagaimana menurut infoers, keren sekali bukan cara nenek moyang kita memandang hidup? Semoga artikel ini bermanfaat dan sampai jumpa di informasi berikutnya!
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris Mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.
Apa Itu Upacara Kumau?
Urutan dan Prosesi Upacara Kumau
1. Musyawarah Adat
2. Persiapan Sesajian dan Perlengkapan
3. Ritual Inti di Sawah
4. Makan Bersama
Filosofi dan Makna Upacara Kumau
1. Hubungan Antara Manusia dan Pencipta
2. Antara Manusia dengan Alam
3. Hubungan Manusia dan Manusia
4. Hubungan Manusia dan Adatnya
Mengapa Upacara Kumau Masih Bertahan di Era Modern?
Seluruh warga desa akan berjalan bersama menuju lokasi. Di sana, pemimpin adat akan memimpin doa. Momen paling ikonik adalah ketika para petani melakukan gerakan mencangkul pertama secara bersamaan. Hal ini menandakan bahwa masa istirahat tanah telah berakhir.
Setelah doa selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Kebersamaan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar warga desa tanpa memandang status sosial.
Filosofi dalam Upacara Kumau bukan sekadar soal menanam padi, tapi lebih kepada pandangan hidup masyarakat Jambi yang sangat dalam. Jika infoers perhatikan, ada tiga hubungan utama yang dijaga dalam tradisi ini, yaitu hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan alam, dan hubungan dengan sesama manusia.
Masyarakat Jambi, khususnya di Kerinci, percaya bahwa manusia hanya bisa berusaha, namun hasil akhirnya ada di tangan Yang Maha Kuasa. Upacara Kumau adalah bentuk izin kepada Sang Pencipta. Sebelum tanah disentuh oleh cangkul, doa-doa dipanjatkan agar usaha mereka diberkahi. Filosofinya adalah kerendahan hati; bahwa sehebat apa pun teknik bertani manusia, mereka tetap membutuhkan restu dari langit.
Dalam tradisi ini, tanah dan air tidak dianggap sebagai benda mati atau alat produksi semata. Tanah dianggap sebagai sumber kehidupan yang perlu dibangunkan dengan lembut.
Gerakan Mencangkul Pertama melambangkan dimulainya kembali interaksi antara manusia dengan bumi dan Ada waktu di mana tanah harus istirahat, dan ada waktu di mana tanah harus bekerja. Filosofinya adalah keseimbangan; jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita.
Salah satu nilai paling kuat dalam Upacara Kumau adalah keserempakan. Tidak boleh ada petani yang turun ke sawah lebih dulu atau belakangan sebelum ritual dilakukan.
Upacara ini mengajarkan infoers tentang pentingnya mengikuti aturan dan menghormati pemimpin atau yang lebih dikenal dengan nama Depati-Ninik Mamak.
Masyarakat belajar bahwa hidup yang teratur dan mengikuti aturan adat akan membawa pada ketenteraman desa. Filosofinya adalah kepatuhan pada tatanan, yang menjaga masyarakat dari kekacauan atau egoisme pribadi.
Singkatnya, filosofi Upacara Kumau adalah tentang keselarasan. Masyarakat Jambi percaya bahwa jika hubungan dengan Tuhan baik, hubungan dengan alam terjaga, dan hubungan antar warga rukun, maka kesejahteraan dan panen yang melimpah akan datang dengan sendirinya.
Mungkin infoers bertanya-tanya, mengapa di zaman traktor mesin ini tradisi Kumau masih bertahan? Jawabannya ditemukan dalam jurnal yang berjudul Eksistensi Ritual Kumau di Tengah Modernisasi Pertanian karya Hendra Gunawan. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa bagi petani Jambi, Kumau adalah penyemangat spiritual yang tidak bisa digantikan oleh mesin secanggih apa pun.
Upacara Kumau adalah bukti nyata bahwa masyarakat Jambi sangat menghargai bumi yang mereka pijak. Ini bukan sekadar ritual menyambut musim tani, melainkan sebuah perayaan kehidupan, kebersamaan, dan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta.
Dengan memahami makna di balik Upacara Kumau, kita belajar bahwa keberhasilan sebuah usaha selalu dimulai dengan doa, harmoni dengan alam, dan dukungan dari sesama manusia.
Bagaimana menurut infoers, keren sekali bukan cara nenek moyang kita memandang hidup? Semoga artikel ini bermanfaat dan sampai jumpa di informasi berikutnya!
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris Mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.







