5 Senjata Tradisional Lampung, Salah Satunya Dipakai Raden Inten II

Posted on

Di balik pesatnya perkembangan teknologi dan peralatan modern, warisan budaya tetap menjadi identitas suatu daerah. Salah satunya adalah senjata tradisional Lampung, yang tidak hanya menyimpan nilai seni dan budaya, tetapi juga nilai sejarah.

Beberapa di antaranya bahkan memiliki keterkaitan dengan perjuangan Raden Inten II melawan penjajahan Belanda. Raden Inten II sendiri merupakan sosok pahlawan nasional yang berasal dari Lampung.

Berikut ini infoSumbagsel sajikan informasi mengenai daftar senjata tradisional Lampung, yang salah satunya pernah digunakan atau berada langsung di tangan Raden Inten II. Yuk, simak!

Dilansir dari akun Instagram resmi museumlampung_ruwajurai, salah satu senjata tradisional Lampung yang tercatat pernah digunakan oleh Punggawa Raden Inten II dalam perlawanan terhadap Belanda pada abad ke-19 adalah pedang ini.

Pedang ini memiliki keunikan dimana pada bilah pedang terukir tulisan Arab dari surah Yasin ayat 82:

“Innamaa amruhuu idzaa arooda syai’an ai-yaquula lahuu kun fa yakuun.”

Artinya: “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.”.

Dilansir dari buku Senjata Tradisional Lampung (1992) oleh Fachruddin, Endjat Djainuderadjat, dan Rumtiyati, meriam adalah salah satu senjata tradisional yang dikenal di Lampung sejak masa kedatangan bangsa Barat, terutama sejak dikenalnya mesiu sebagai bahan peledak. Senjata ini memiliki berbagai ukuran dan bentuk, mulai dari meriam besar yang digunakan sebagai pertahanan benteng atau meriam kecil yang dikenal sebagai meriam bumbung.

Dalam sejarah Lampung, meriam tercatat digunakan pada abad ke-19 saat perlawanan terhadap Belanda. Sejumlah sumber menyebutkan jika pasukan Raden Inten II menggunakan meriam untuk mempertahankan benteng-benteng pertahanan, seperti Benteng Merambung dan Galah Tanah. Kini, meriam-meriam tersebut disimpan di Museum Lampung sebagai koleksi sejarah.

Masih di sumber yang sama, golok dalam bahasa Lampung dikenal dengan sebutan candung/laduk. Berdasarkan pengunaannya, candung terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu: golok dapur, golok ladang, dan golok istimewa.

Lalu, apakah Candung termasuk senjata yang digunakan semasa perang? berdasarkan penelusuran sejumlah sumber tertulis, belum ditemukan sumber yang menyebutkan secara eksplisit bahwa Candung digunakan sebagai senjata utama dalam konteks peperangan.

Meski demikian, Candung Istimewa dikenal sebagai jenis golok yang memiliki kualitas tinggi dan terkenal sangat tajam karena unsur bajanya sangat menonjol. Selain itu, ukurannya yang relatif pendek membuat senjata ini praktis dibawa, biasanya dengan cara diselipkan di pinggang.

Candung Istimewa juga dilengkapi dengan sarung yang terbuat dari dua bilah kayu ringan yang diikat dengan lilitan rotan atau tanduk. Berdasarkan karakteristik tersebut, Candung khususnya jenis istimewa, berpotensi digunakan sebagai senjata tikam atau bela diri.

Badik merupakan salah satu senjata tradisional daerah Lampung yang dikenal oleh banyak kalangan mulai dari masyarakat kota hingga desa. Badik berbentuk seperti pisau biasa namun dengan gagang yang membengkok seperti gagang golok, sedangkan mata pisaunya membengkok di bagian ujung.

Badik produksi lama memiliki kualitas yang jauh lebih baik, selain karena mata pisaunya penuh baja, badik lama juga sepenuhnya hampir penuh dengan bisa (warangan), yang dikatakan jika terkena sayatan senjata ini maka luka yang ditimbulkan berupa borok (luka yang membusuk) sehingga sulit disembuhkan.

Selain itu, badik lampung juga dapat dikategorikan menjadi dua jenis berdasarkan bentuknya yaitu badik kecil dan siwokh. Badik kecil adalah sejenis badik yang ukuran mata pisaunya tidak lebih dari 11 cm, lebar pisau mata 2 cm. Sedangkan yang disebut siwokh, adalah badik besar dan lebih panjang. Yang ukuran panjang mata pisaunya saja dapat mencapai 19 cm dengan lebar lebih dari 2 cm.

Dilansir dari laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI), Payan merupakan salah satu senjata tradisional Lampung tertua. Sejumlah peninggalan arkeologis di situs purbakala Pugung Raharjo serta situs peninggalan Islam Benteng Sari menunjukkan bahwasannya Payan telah digunakan sejak berabad-abad lalu. Senjata ini diyakini menjadi salah satu senjata yang digunakan oleh Prajurit Kerajaan Tulang Bawang pada kala itu.

Payan berbentuk seperti sebuah tombak dengan gagang yang cukup panjang, yaitu sekitar 150 – 180 cm. Mata tombaknya terbuat dari besi dengan ujung yang runcing dan lancip, sehingga dapat digunakan baik sebagai senjata jarak menengah atau panjang.

Itulah dia informasi mengenai 5 senjata tradisional Lampung, salah satunya yang pernah digunakan oleh Raden Inten II. Semoga berguna ya!

Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker

Daftar Senjata Tradisional Lampung

1. Pedang Punggawa Raden Inten II

2. Meriam Lampung

3. Candung

4. Badik Lampung

5. Payan

Badik merupakan salah satu senjata tradisional daerah Lampung yang dikenal oleh banyak kalangan mulai dari masyarakat kota hingga desa. Badik berbentuk seperti pisau biasa namun dengan gagang yang membengkok seperti gagang golok, sedangkan mata pisaunya membengkok di bagian ujung.

Badik produksi lama memiliki kualitas yang jauh lebih baik, selain karena mata pisaunya penuh baja, badik lama juga sepenuhnya hampir penuh dengan bisa (warangan), yang dikatakan jika terkena sayatan senjata ini maka luka yang ditimbulkan berupa borok (luka yang membusuk) sehingga sulit disembuhkan.

Selain itu, badik lampung juga dapat dikategorikan menjadi dua jenis berdasarkan bentuknya yaitu badik kecil dan siwokh. Badik kecil adalah sejenis badik yang ukuran mata pisaunya tidak lebih dari 11 cm, lebar pisau mata 2 cm. Sedangkan yang disebut siwokh, adalah badik besar dan lebih panjang. Yang ukuran panjang mata pisaunya saja dapat mencapai 19 cm dengan lebar lebih dari 2 cm.

Dilansir dari laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (PDBI), Payan merupakan salah satu senjata tradisional Lampung tertua. Sejumlah peninggalan arkeologis di situs purbakala Pugung Raharjo serta situs peninggalan Islam Benteng Sari menunjukkan bahwasannya Payan telah digunakan sejak berabad-abad lalu. Senjata ini diyakini menjadi salah satu senjata yang digunakan oleh Prajurit Kerajaan Tulang Bawang pada kala itu.

Payan berbentuk seperti sebuah tombak dengan gagang yang cukup panjang, yaitu sekitar 150 – 180 cm. Mata tombaknya terbuat dari besi dengan ujung yang runcing dan lancip, sehingga dapat digunakan baik sebagai senjata jarak menengah atau panjang.

Itulah dia informasi mengenai 5 senjata tradisional Lampung, salah satunya yang pernah digunakan oleh Raden Inten II. Semoga berguna ya!

Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker

4. Badik Lampung

5. Payan