Komunitas pemuda Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Sarolangun, Jambi, mulai membangun kesadaran geliat ekonomi kreatif untuk bertahan hidup, di tengah menyempitnya kawasan hutan sebagai sumber penghidupan. Komunitas adat ini mulai memasarkan hasil kerajinan tangan mereka.
Potret perubahan ini terlihat di Desa Pulau Lintang, Desa Sukajadi, dan Desa Pematang Kejumat yang berada di Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun.
Di Komunitas SAD Rombong Nurani Desa Pulau Lintang, misalnya, bambu hutan diolah menjadi produk kerajinan tangan berupa cawan-cawan pajangan yang estetik.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Kalau untuk pajangan ini bagusnya dikasih minyak alami agar terlihat mengkilat, tapi kalau untuk dipakai minum bisa langsung,” kata Antoni, Ketua Gerakan Pemuda Anak Dalam (GPAD), Minggu (25/1/2026).
Proses produksi cawan bambu tidak sederhana. Bambu dipilih dengan cermat berdasarkan usia agar tidak mudah retak, lalu direndam dalam air kapur untuk mencegah jamur, sebelum akhirnya dikeringkan secara alami guna menjaga kekuatan serat.
Pengetahuan mengenai sifat bambu ini merupakan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi dan kini dikembangkan kembali oleh para pemuda SAD. Jika sebelumnya pengerjaan hanya mengandalkan parang dan pisau raut yang memakan waktu lama, kini melalui GPAD mereka mulai memanfaatkan peralatan modern seperti mesin gerinda dan amplas listrik.
“Penggunaan alat modern ini membantu kami menghasilkan produk yang lebih presisi, halus, dan memiliki standar kualitas yang lebih baik dibanding yang dibuat orang-orang dahulu kami,” ujar Antoni.
Kendati teknologi digunakan, pemilihan bambu tetap dilakukan secara tradisional dengan mempertimbangkan usia dan kualitas bahan. Cawan pajangan hasil karya mereka kini dipasarkan dengan harga berkisar Rp 25.000 hingga Rp 35.000 per unit.
Cawan bambu seperti ini sudah lama digunakan oleh masyarakat adat Suku Anak Dalam saat mereka masih berada di dalam rimba, sebagai wadah minum yang sederhana dan praktis. Dibuat dari bambu yang mudah ditemukan di hutan.
Bergeser ke Desa Pematang Kejumat, pemuda SAD ini lebih kreatif. Mereka memanfaatkan biji-biji sawit untuk menjadi bahan kerajinan pembutan cincin. Kesadaran ini dilakukan mengingat ruang hidup mereka yang dikepung perkebunan sawit.
Ide kreatif itu dari dua pemuda SAD di sana, Jaini dan Cedas. Cincin biji sawit karya GPAD Pematang Kejumat ini ditawarkan dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp15.000 per buah. Harga yang dipatok ini merupakan undangan bagi publik untuk ikut mengapresiasi jerih payah Cedas.
Tangan-tangan kreatif pemuda SAD ini mendapat dukungan Pundi Sumatra, komunitas yang mendampingi kelompok masyarakat adat SAD di Sarolangun dan Bungo. CEO Pundi Sumatra, Sutono, menyebut bahwa apa yang dilakukan Jaini dan Cedas adalah bagian dari upaya besar komunitas SAD untuk berdaulat di atas kaki sendiri.
“Mereka tidak lagi meratapi hilangnya hutan, tapi mulai mengisi celah ekonomi melalui pengolahan bahan baku yang ada di sekitar mereka. Ini adalah langkah kecil yang sangat bermakna bagi kedaulatan ekonomi mereka ke depan,” ungkapnya.
Di Desa Pematang Kejumat ini, kelompok SAD Rombong Juray juga mengembangkan usaha perbengkelan melalui yang mulai dirintis pada 2023. Para pemuda komunitas ini menunjukkan kemampuan menguasai teknologi otomotif, mulai dari servis ringan seperti ganti oli dan tambal ban, hingga perbaikan berat seperti penggantian blok mesin, rem piston, kampas kopling, gear, serta pekerjaan pengelasan.
Menurut Sutono, keberlangsungan inisiatif yang digagas GPAD sangat bergantung pada dukungan masyarakat luas. Partisipasi publik melalui pembelian produk kerajinan maupun pemanfaatan jasa bengkel komunitas menjadi penopang utama menuju kemandirian ekonomi.
“Langkah-langkah kecil di kedua desa ini diharapkan dapat terus berjalan secara mandiri dan menjadi contoh bagi kelompok masyarakat adat lainnya dalam mengelola potensi ekonomi di wilayah masing-masing dengan kepala tegak,” ungkap Sutono.
Cawan Bambu Mulai Diperkenalkan
Meski kualitasnya belum sepenuhnya maksimal, produk kerajinan cawan bambu ini telah mulai diperkenalkan dan dipamerkan dalam berbagai acara dan bazar. Baru-baru ini, Antoni mewakili kelompoknya untuk memperkenalkan cawan bambu hasil karya dirinya bersama para pemuda Suku Anak Dalam dalam ajang Jambi Youth Community Fest Provinsi Jambi 2025, yang diselenggarakan di bawah naungan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Kehadiran mereka dalam acara tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas pengenalan produk, sekaligus membuka ruang bagi kerajinan berbasis kearifan lokal agar dikenal oleh khalayak yang lebih luas. Dalam ajang itu, Gerakan Pemuda Anak Dalam yang diketuai oleh Antoni meraih penghargaan kategori Komunitas Paling Berdampak dalam Pemberdayaan.
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas upaya kolektif para pemuda SAD dalam mengembangkan kerajinan berbasis kearifan lokal, sekaligus mendorong pemberdayaan dan peningkatan ekonomi komunitas mereka.
Menurut Sutono, keberlangsungan inisiatif yang digagas GPAD sangat bergantung pada dukungan masyarakat luas. Partisipasi publik melalui pembelian produk kerajinan maupun pemanfaatan jasa bengkel komunitas menjadi penopang utama menuju kemandirian ekonomi.
“Langkah-langkah kecil di kedua desa ini diharapkan dapat terus berjalan secara mandiri dan menjadi contoh bagi kelompok masyarakat adat lainnya dalam mengelola potensi ekonomi di wilayah masing-masing dengan kepala tegak,” ungkap Sutono.
Cawan Bambu Mulai Diperkenalkan
Meski kualitasnya belum sepenuhnya maksimal, produk kerajinan cawan bambu ini telah mulai diperkenalkan dan dipamerkan dalam berbagai acara dan bazar. Baru-baru ini, Antoni mewakili kelompoknya untuk memperkenalkan cawan bambu hasil karya dirinya bersama para pemuda Suku Anak Dalam dalam ajang Jambi Youth Community Fest Provinsi Jambi 2025, yang diselenggarakan di bawah naungan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Kehadiran mereka dalam acara tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas pengenalan produk, sekaligus membuka ruang bagi kerajinan berbasis kearifan lokal agar dikenal oleh khalayak yang lebih luas. Dalam ajang itu, Gerakan Pemuda Anak Dalam yang diketuai oleh Antoni meraih penghargaan kategori Komunitas Paling Berdampak dalam Pemberdayaan.
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas upaya kolektif para pemuda SAD dalam mengembangkan kerajinan berbasis kearifan lokal, sekaligus mendorong pemberdayaan dan peningkatan ekonomi komunitas mereka.
