Tenaga pendidik di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 7 Palembang menerapkan pendekatan asesmen psikologis dan diagnostik mendalam untuk membangkitkan motivasi belajar siswa yang berasal dari keluarga prasejahtera.
Langkah ini menjadi strategi utama para guru dalam menghadapi tantangan rendahnya semangat belajar siswa di awal masa pendidikan akibat latar belakang ekonomi dan sosial yang berbeda dari sekolah umum pada umumnya.
Agung Maha Putra, salah satu dari 14 guru yang juga menjabat sebagai wali kelas, menjelaskan bahwa memahami karakteristik siswa adalah kunci sebelum memulai kurikulum akademik.
Menurut Agung, perbedaan latar belakang siswa sangat memengaruhi spirit belajar mereka. Untuk itu, pihak sekolah melakukan pemetaan menyeluruh terhadap 97 siswa yang ada saat ini.
“Kami menggunakan asesmen diagnostik awal, mulai dari kognitif hingga sosial. Kami harus mengenali siapa yang kami ajar, bagaimana karakteristiknya, dan apa gaya belajarnya, apakah visual, kinestetik, atau audiovisual. Pendekatan pembelajaran juga harus tepat sasaran agar mereka merasa nyaman dan termotivasi,” ujar Agung.
Untuk menunjang hal tersebut, para guru memaksimalkan sarana multimedia yang disediakan negara. Kurikulum nasional pun dimodifikasi dengan sistem modul atau Multi Entry-Multi Exit (MEME), yang dibalut dengan penguatan karakter sebagai hidden curriculum.
Selain itu, kata Agung, tantangan adaptasi dan kedisiplinan asrama proses mengubah mentalitas siswa tidaklah instan. Pada masa awal pembukaan, sempat ada 100 siswa yang mendaftar, namun 7 orang di antaranya memilih mundur karena terkejut dengan kedisiplinan asrama.
“Beberapa siswa kaget dengan aturan asrama yang tertata, terutama bagi mereka yang terbiasa bebas menggunakan ponsel atau menonton TV. Namun, bagi yang bertahan, kami memberikan pengawasan penuh 24 jam. Jam sekolah diawasi guru, dan setelah jam 4 sore diambil alih oleh tiga wali asrama,” tambahnya.
Ia menjelaskan, bagi para pengajar di sekolah rakyat ini, mendidik siswa dari kalangan menengah ke bawah adalah tanggung jawab moril yang besar. kami menyadari bahwa fasilitas lengkap yang diberikan negara merupakan investasi untuk masa depan bangsa.
“Apa yang diberikan negara adalah harapan besar. Bagi kami, ini tanggung jawab untuk menjadikan mereka orang-orang sukses. Ini adalah kontribusi kami untuk mewujudkan cita-cita pemimpin bangsa menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Agung.
Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.
