Ketua DPRD Jambi, Hafiz Fattah menekankan agar Dinas Pendidikan Provinsi Jambi terus mengupayakan secepat mungkin agar kasus adu jotos antara guru dan sejumlah murid di SMKN 3 Tanjabtim Jambi bisa segera Damai. Meski saat ini kedua belah pihak saling lapor polisi, Hafiz berharap agar kasus itu bisa diupayakan Disdik dengan jalur kekeluargaan secepatnya.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
“Saya terus menekankan agar kasus ini perseteruan antara guru dan siswa SMKN 3 Tanjung Jabung Timur bisa secepatnya damai. Kita juga tidak ingin kasus ini berkembang terlalu jauh dan ini upaya Disdik melalui kepala sekolah atau Kabid SMK untuk terus gerak bagaimana kasus berakhir damai,” kata Hafiz kepada wartawan, Rabu (21/1/2026).
Hafiz menegaskan, jika upaya Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk terus melakukan penyelesaian jalur damai dalam kasus adu jotos antara guru dan murid dinilai penting. Baginya, jalur damai tanpa berlanjut ke ranah hukum lebih baik demi menjaga marwah dan wibawa dunia pendidikan.
Bagi dia, sekolah seharusnya menjadi ruang pembinaan karakter dan adab, bukan justru menjadi tempat konflik yang berujung pada persoalan hukum.
Oleh karena itu, politisi muda yang menjadi pimpinan DPRD Jambi tersebut mendorong Disdik agar mengambil peran aktif sebagai mediator guna terus menerus berupaya mempertemukan seluruh pihak terkait agar proses damai bisa berjalan.
“Pendekatan persuasif dan kekeluargaan perlu dikedepankan. Jangan sampai kasus ini mencederai citra pendidikan dan berdampak panjang terhadap psikologis guru maupun murid,” ujar Hafiz.
Menurutnya, penyelesaian secara damai juga sejalan dengan semangat keadilan restoratif yang mengutamakan pemulihan hubungan sosial tanpa mengesampingkan aturan yang berlaku. Ia menilai, langkah tersebut lebih mendidik dan memberi efek jera yang konstruktif.
Ketua DPRD berharap Disdik, pihak sekolah, orang tua, serta aparat penegak hukum dapat duduk bersama mencari solusi terbaik.
“Yang utama adalah menjaga kehormatan guru, melindungi masa depan murid, dan memastikan proses pendidikan di Jambi tetap berjalan dengan baik,” tegasnya.
Meski dalam kasus ini terdapat adanya dua sudut pandang yang berbeda antara guru dan siswa. Namun itu bukan lah sebagai solusi dalam mengupayakan langkah damai.
“Kita sudah mendalami, memang ada dua pengakuan yang sudut pandangnya berbeda tetapi ini bukan langkah buat cari damai. Kita harus terus upayakan agar kasus antara guru dan murid di sekolah bisa berjalan baik demi menjaga nama baik dunia pendidikan di Jambi,” terang Hafiz.
Jalur damai diharapkan dapat menjadi solusi dalam penanganan kasus adu jotos antara murid dan guru yang terjadi di Jambi. Penyelesaian secara persuasif dan kekeluargaan dinilai penting oleh Hafiz.
Meskipun insiden tersebut telah menyita perhatian publik dan telah berlanjut saling lapor menuju ke ranah hukum, tetapi bagi Hafiz semua masih dapat diselesaikan baik dengan cara pendekatan edukatif.
“Konflik antara pendidik dan peserta didik dianggap tidak hanya berdampak pada individu yang terlibat, tetapi juga dapat mencoreng citra institusi pendidikan secara luas. Dengan penyelesaian damai, ini tentu kehormatan guru tetap terjaga, hak dan masa depan murid terlindungi, serta proses belajar mengajar di sekolah dapat kembali berjalan kondusif tanpa bayang-bayang konflik berkepanjangan,” tegas Hafiz.
Sebelumnya, aksi saling lapor antara guru dan sejumlah murid ke polisi setelah jalur perdamaian dengan langkah mediasi tak efektif. Guru dan murid lakukan saling lapor karena merasa tak puas atas kejadian adu jotos itu.
