Aksi perundungan dan pemerasan terjadi di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Sriwijaya (Unsri) viral di media sosial. Korbannya merupakan seorang mahasiswa PPDS Unsri.
Dari informasi yang dihimpun infoSumbagsel, korban sempat melakukan percobaan bunuh diri hingga mengundurkan diri dari program PPDS yang sedang ia jalani karena tidak tahan jadi korban perundungan.
Bentuk perundungan yang didapat korban dari para seniornya yakni membiayai gaya hidup mewah seniornya seperti membiayai uang semesteran senior, clubbing dan party senior, alat olahraga, sewa padel, sepeda dan club sepeda bola senior, membeli skincare, menanggung makan dan minum senior.
Ada juga membelikan tiket pesawat dan tiket konser untuk senior, biaya sewa rumah dan kosan senior, biaya penelitian ilmiah dan seminar senior, antar jemput anak senior, membelikan alkes senior dan barang mewah lainnya. Modus kejahatan ini dilakukan dengan meminta uang secara cash kepada junior dengan sembunyi-sembunyi.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Humas Unsri Nurly Meilinda mengatakan terkait informasi yang beredar di ruang publik dan media sosial adanya dugaan perundungan dalam lingkungan PPDS Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, bahwa sejak September 2025 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya telah mengambil langkah-langkah awal secara institusional.
“Rektor telah menugaskan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) untuk membantu dan berkoordinasi dalam proses investigasi,” ujarnya kepada infoSumbagel, Rabu (7/1/2026).
Menurut Nurly, Unsri telah melakukan tahap klarifikasi dengan meminta keterangan dari berbagai pihak, termasuk senior dan sejawat yang berada dalam lingkup akademik yang sama.
“Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memahami konteks permasalahan secara menyeluruh dan berimbang,” katanya.
Selain itu, lanjut Nurly, Fakultas Kedokteran juga telah memberikan pendampingan akademik dan non-akademik berupa layanan konseling sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan peserta didik.
“Saat ini, proses investigasi internal masih berlangsung,” katanya.
Universitas Sriwijaya berkomitmen untuk menciptakan lingkungan akademik yang aman, sehat, dan bermartabat, serta tidak mentoleransi segala bentuk kekerasan, perundungan, maupun praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai profesionalisme dan etika akademik.
Pada saat yang sama, Universitas juga berkewajiban melindungi hak, martabat, dan privasi seluruh pihak yang terlibat dalam proses ini.
“Kami mengimbau masyarakat untuk memberikan ruang bagi institusi dalam menyelesaikan proses ini secara bertanggung jawab,” ujarnya.
