Kota Palembang dikenal sebagai wilayah yang kaya akan peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya. Salah satu warisan budaya yang masih terjaga keindahannya hingga saat ini adalah tari tanggai.
Jika infoers yang pernah menghadiri acara pernikahan khas masyarakat Palembang, mungkin tidak asing lagi dengan tarian ini. Namun, tari tanggai bukan sekadar gerakan gemulai di atas panggung. Di balik lentiknya jari-jemari para penari, tersimpan narasi sejarah yang panjang dan makna filosofis yang mendalam.
Tapi apa ya makna dibalik tari tanggai? Berikut, infoSumbagsel rangkum informasi lengkapnya. Yuk disimak!
Tari tanggai memiliki akar sejarah yang sangat kuat, yang sering dikaitkan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Pada masa itu, tarian serupa digunakan sebagai persembahan untuk dewa-dewa atau sebagai bentuk penghormatan kepada raja dan tamu agung kerajaan.
Secara historis, tari tanggai merupakan perkembangan dari tarian pemujaan di masa lalu. Gerakannya yang lambat dan penuh konsentrasi mencerminkan ketenangan dan keagungan masyarakat Sriwijaya.
Penggunaan tanggai atau kuku palsu yang terbuat dari tembaga atau emas diyakini sebagai simbol kemewahan dan status sosial yang tinggi pada masa itu.
Meskipun akarnya kuno, bentuk tari tanggai yang kita kenal sekarang banyak dipengaruhi oleh upaya pelestarian pada abad ke-20. Salah satu tokoh yang berjasa adalah Elly Rudy, seorang seniman Palembang yang menggarap ulang tarian ini agar lebih sesuai dengan konteks zaman tanpa menghilangkan nilai sakralnya.
Dilansir dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), tari tanggai dulunya memiliki durasi yang sangat panjang dan rumit. Namun, berkat Ely Rudy, tari tanggai kini bisa lebih sederhana, walau dipersingkat, makna yang terkandung dalam tari tanggai tetap sama.
Selain itu, tari tanggai sering disebut memiliki kesamaan dengan tari Gending Sriwijaya. Perbedaannya terletak pada jumlah penari dan konteks acara. Tari Gending Sriwijaya biasanya dibawakan dalam acara kenegaraan yang sangat besar dan sakral, sementara tari tanggai lebih fleksibel untuk acara pernikahan atau penyambutan tamu umum.
Mengutip dari jurnal yang bertajuk Makna Simbolik Tari Tanggai pada Upacara Pernikahan Adat Palembang karya Fitriana Dkk, tari tanggai adalah manifestasi dari rasa hormat masyarakat Palembang yang terbuka namun tetap menjunjung tinggi tata krama. Berikut adalah beberapa makna utama yang terkandung di dalamnya:
Fungsi utama tarian ini adalah sebagai ucapan Selamat Datang. Gerakan tangan yang menyatu di depan merupakan simbol bahwa tuan rumah menyambut tamu dengan hati yang bersih dan tangan terbuka.
Dalam pertunjukannya, salah satu penari akan membawa tepak atau kotak kayu berisi sirih, pinang, dan kapur. Prosesi penyerahan sekapur sirih kepada tamu kehormatan adalah puncak dari tarian ini. Jika tamu mencicipi atau sekadar menyentuh sirih tersebut, itu menandakan bahwa tamu menerima persahabatan dan keramahan dari tuan rumah.
Gerakan tari tanggai yang sangat mengandalkan kelenturan jari-jemari menggambarkan bahwa perempuan Palembang memiliki kelembutan hati, kesabaran, dan keanggunan. Kecepatan musik yang lambat menuntut konsentrasi tinggi, yang melambangkan ketenangan dalam bertindak.
Keindahan tari tanggai tidak lepas dari kostum yang megah. Busana yang dikenakan biasanya disebut dengan Aesan Gede atau Aesan Pasangko, yang merupakan pakaian adat kebesaran Palembang.
1. Penari menggunakan kain songket asli Palembang dengan motif benang emas yang ditenun tangan. Ini melambangkan kejayaan dan kekayaan material serta budaya.
2. Ciri khas utamanya. Delapan buah tanggai dipasang di jari-jari penari (kecuali ibu jari). Tanggai berfungsi untuk memperpanjang jari dan memberikan efek visual yang dramatis saat tangan bergerak meliuk.
3. Rambut penari ditata dengan sanggul khas Palembang, dihiasi dengan bunga cempaka dan perhiasan berwarna emas.
4. Perhiasan emas yang melingkar di leher dan pinggang menambah kesan mewah dan elegan.
Secara teknis, tari tanggai memiliki beberapa ragam gerak yang unik. Setiap gerakan memiliki nama dan filosofi tersendiri, yaitu:
1. Gerak Sembah atau posisi tangan menyatu di depan dada sebagai tanda hormat.
2. Gerak Borobudur yang terinspirasi dari bentuk stupa, melambangkan pengaruh ajaran Buddha pada masa Sriwijaya.
3. Gerakan memutar tangan yang mengandalkan kekuatan pergelangan tangan agar tanggai terlihat bergetar indah.
4. Gerak Kecubung, yang menggambarkan bunga kecubung yang sedang mekar, simbol keindahan alam.
Di era digital dan modern saat ini, tari tanggai tetap berdiri kokoh sebagai identitas Sumatera Selatan. Tarian ini tidak hanya dipentaskan di panggung-panggung budaya, tetapi juga menjadi elemen wajib dalam pesta pernikahan masyarakat Palembang di mana pun mereka berada.
Pemerintah kota Palembang dan para pegiat seni terus berupaya memasukkan tarian ini ke dalam kurikulum pendidikan non-formal dan sanggar-sanggar tari untuk memastikan generasi muda tetap mengenal jati diri mereka. Tari tanggai adalah bukti bahwa tradisi bisa beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jiwanya.
Pada intinya, tari tanggai bukan hanya gerakan yang indah tapi ini merupakan bahasa tanpa kata yang berbicara tentang sejarah besar Sriwijaya, kehangatan masyarakat Palembang, dan filosofi hidup yang penuh rasa hormat.
Nah itu saja penjelasan yang bisa infoSumbagsel rangkum tentang tari tanggai. Semoga bermanfaat ya!
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama
Sejarah Tari Tanggai
1. Pengaruh Kerajaan Sriwijaya
2. Modernisasi oleh Elly Rudy
Makna Tari Tanggai
1. Simbol Penghormatan
2. Makna Tepak dan Sekapur Sirih
3. Kelembutan dan Kelenturan
Busana Penari Tanggai
Gerakan Tari Tanggai
Tari Tanggai dalam Konteks Modern
Keindahan tari tanggai tidak lepas dari kostum yang megah. Busana yang dikenakan biasanya disebut dengan Aesan Gede atau Aesan Pasangko, yang merupakan pakaian adat kebesaran Palembang.
1. Penari menggunakan kain songket asli Palembang dengan motif benang emas yang ditenun tangan. Ini melambangkan kejayaan dan kekayaan material serta budaya.
2. Ciri khas utamanya. Delapan buah tanggai dipasang di jari-jari penari (kecuali ibu jari). Tanggai berfungsi untuk memperpanjang jari dan memberikan efek visual yang dramatis saat tangan bergerak meliuk.
3. Rambut penari ditata dengan sanggul khas Palembang, dihiasi dengan bunga cempaka dan perhiasan berwarna emas.
4. Perhiasan emas yang melingkar di leher dan pinggang menambah kesan mewah dan elegan.
Secara teknis, tari tanggai memiliki beberapa ragam gerak yang unik. Setiap gerakan memiliki nama dan filosofi tersendiri, yaitu:
1. Gerak Sembah atau posisi tangan menyatu di depan dada sebagai tanda hormat.
2. Gerak Borobudur yang terinspirasi dari bentuk stupa, melambangkan pengaruh ajaran Buddha pada masa Sriwijaya.
3. Gerakan memutar tangan yang mengandalkan kekuatan pergelangan tangan agar tanggai terlihat bergetar indah.
4. Gerak Kecubung, yang menggambarkan bunga kecubung yang sedang mekar, simbol keindahan alam.
Di era digital dan modern saat ini, tari tanggai tetap berdiri kokoh sebagai identitas Sumatera Selatan. Tarian ini tidak hanya dipentaskan di panggung-panggung budaya, tetapi juga menjadi elemen wajib dalam pesta pernikahan masyarakat Palembang di mana pun mereka berada.
Pemerintah kota Palembang dan para pegiat seni terus berupaya memasukkan tarian ini ke dalam kurikulum pendidikan non-formal dan sanggar-sanggar tari untuk memastikan generasi muda tetap mengenal jati diri mereka. Tari tanggai adalah bukti bahwa tradisi bisa beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jiwanya.
Pada intinya, tari tanggai bukan hanya gerakan yang indah tapi ini merupakan bahasa tanpa kata yang berbicara tentang sejarah besar Sriwijaya, kehangatan masyarakat Palembang, dan filosofi hidup yang penuh rasa hormat.
Nah itu saja penjelasan yang bisa infoSumbagsel rangkum tentang tari tanggai. Semoga bermanfaat ya!
Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama
