Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat di Sumatera Selatan (Sumsel) memiliki berbagai cara untuk mempersiapkan diri secara spiritual dan sosial. Salah satu tradisi yang hingga kini masih terjaga kelestariannya adalah ruwahan.
Ruwahan merupakan momen khusus yang dilakukan untuk mendoakan para leluhur atau anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Tradisi ini juga wujud bentuk rasa syukur atas dipertemukannya kembali dengan bulan Ramadan.
Penasaran dengan tradisi ruwahan menyambut Ramadan di Sumsel? Simak ulasan mendalam mengenai makna di balik tradisi Ruwahan, prosesi, hingga referensi sejarah yang melatarbelakanginya.
Dilansir dari jurnal Tradisi Ruwahan Masyarakat Melayu Palembang dalam Perspektif Fenomenologis oleh Choirunniswah, ruwahan di Palembang secara fenomenologis merupakan hasil dari kesadaran kolektif masyarakat.
Tradisi ini berfungsi sebagai identitas komunal yang diwariskan secara turun-temurun, di mana setiap individu terlibat berdasarkan motif keagamaan dan sosial, terutama untuk mendoakan leluhur sekaligus mempererat jaringan kekerabatan.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Kesadaran kolektif tersebut terbentuk melalui proses sejarah yang panjang. Secara historis, kebudayaan Melayu Palembang merupakan hasil perpaduan budaya lokal dan Hindu, yang kemudian mendapat pengaruh kuat dari budaya Jawa ketika Palembang berada di bawah kekuasaan Raden Fatah dari Demak hingga tahun 1513.
Proses akulturasi ini melahirkan berbagai ritual tambahan di luar rukun Islam yang berfungsi sebagai sarana syiar keagamaan khas daerah.
Dalam konteks inilah, ruwahan menjadi bukti ajaran Islam berperan sebagai kerangka seleksi terhadap budaya lokal, sehingga tradisi tersebut tetap adaptif, bermakna, dan relevan dalam kehidupan masyarakat hingga kini.
Prosesi Ruwahan di Sumsel tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui rangkaian kegiatan yang melibatkan fisik dan spiritual. Berikut adalah tahapan yang umumnya dilakukan oleh warga:
Bagi masyarakat Palembang, ziarah kubur atau “Nyekar” bukan sekadar kunjungan biasa ke makam. Terdapat etika dan tata cara yang diwariskan turun-temurun, terutama saat memasuki bulan Ruwah.
Dilansir dari buku Adat Istiadat Daerah Sumatera Selatan terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kegiatan ziarah ini bertujuan untuk menjaga hubungan batin antara yang masih hidup dan yang sudah meninggal.
Salah satu yang paling khas dari Nyekar di Palembang adalah penggunaan bunga tujuh rupa dan air mawar. Masyarakat biasanya membeli bungkusan bunga yang terdiri dari irisan daun pandan harum, mawar, cempaka, dan melati untuk ditaburkan di atas makam (nisan).
Terdapat perbedaan waktu yang cukup menonjol. Di Palembang, myekar biasanya dilakukan secara serentak pada hari Jumat atau di hari-hari terakhir menjelang masuknya bulan Ramadan.
Di kompleks pemakaman besar seperti Kawah Tengkurep, Kambang Koci, atau Puncak Sekuning, infoers akan menjumpai ribuan peziarah yang memadati area makam.
Di lokasi-lokasi makam bersejarah seperti makam para Sultan Palembang, prosesi Nyekar sering kali dilakukan secara komunal dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh juru kunci makam atau tokoh agama setempat.
Kesibukan di dapur menjadi pemandangan umum selama bulan ruwah. Para ibu rumah tangga biasanya menyiapkan hidangan dalam porsi besar untuk disedekahkan atau dimakan bersama.
Berbeda dengan acara biasa, sajian Ruwahan di Sumsel sering kali menghadirkan menu istimewa seperti nasi minyak, malbi daging sapi, hingga pindang tulang. Persiapan ini dilakukan dengan semangat gotong royong antaranggota keluarga.
Puncak dari ruwahan adalah acara doa bersama di kediaman tuan rumah. Biasanya dilakukan setelah salat Isya atau sore hari sebelum Magrib. Tuan rumah mengundang sanak saudara, tetangga, dan tokoh agama setempat.
Acara dipimpin oleh seorang ustadz atau sesepuh untuk membacakan surat Yasin, tahlil, dan doa khusus untuk keluarga yang telah meninggal. Di sinilah daftar nama-nama keluarga yang telah meninggal dunia dibacakan satu per satu dengan khidmat.
Setelah doa ditutup, para tamu akan disuguhi hidangan yang telah disiapkan. Makan bersama di atas tikar (lesehan) merupakan simbol kesetaraan dan kebersamaan.
Selain makan di tempat, tuan rumah sering kali membagikan “Berkat” atau nasi kotak kepada tetangga yang tidak sempat hadir. Hal ini sejalan dengan makna sosiologis bahwa sedekah makanan dalam Ruwahan bertujuan untuk memperluas keberkahan bagi lingkungan sekitar.
Jamuan makan dalam ruwahan bukan sekadar pelengkap, melainkan memiliki simbolisme yang kuat. Terdapat beberapa elemen penting yang sering hadir dalam piring saji:
Merupakan hidangan khas Palembang yang melambangkan penghormatan tertinggi tuan rumah kepada para tamu yang bersedia mendoakan leluhur mereka.
Meskipun lebih populer di Jawa, di beberapa wilayah Sumsel, kue ini sering disertakan sebagai simbol permohonan maaf. Kata “apem” diyakini berasal dari bahasa Arab “afwan” yang berarti ampunan.
Simbol dari “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan, sebagai pengingat untuk saling memaafkan sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Ruwahan memiliki fungsi sosial sebagai alat perekat masyarakat. Dilansir dari pengamatan sosiologis dalam buku “Budaya Lokal di Bumi Sriwijaya” oleh Bambang Sulistyo, ruwahan berfungsi sebagai stabilisator sosial.
Pertikaian kecil antar tetangga yang mungkin terjadi selama setahun biasanya akan luruh saat momen makan bersama.Tanpa undangan formal yang kaku, warga biasanya sudah memahami bahwa bulan Ruwah adalah waktu untuk saling mengunjungi.
Di sini, terjadi proses asimilasi sosial di mana status ekonomi tidak menjadi penghalang. Semua orang duduk sama rendah di atas tikar untuk berdoa dan menikmati hidangan yang sama.
Semangat berbagi ini sangat relevan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya sedekah.
Tradisi ruwahan merupakan bukti betapa luhurnya cara masyarakat Sumatera Selatan, khususnya Palembang, dalam memuliakan leluhur dan mempersiapkan diri menyambut Ramadan.
Melalui rangkaian ziarah, doa, dan sedekah, Masyarakat Sumsel diingatkan untuk kembali ke fitrah dan memperkuat hubungan antar sesama.
Nah, itulah ulasan lengkap mengenai tahapan kegiatan Ruwahan di Palembang. Semoga bermanfaat dan selamat menyambut bulan suci Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh suka cita!
Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.
