Memasuki bulan Syaban, umat muslim diingatkan untuk segera menyelesaikan kewajiban ibadah yang tertunda pada tahun sebelumnya. Salah satu hal yang paling krusial yakni melunasi utang puasa Ramadan atau biasa dikenal puasa qadha.
Banyak orang menunda kewajiban ini hingga mendekati pengujung bulan Syaban. Penting bagi setiap individu untuk memahami tata cara pelaksanaan puasa qadha secara benar agar ibadahnya sah.
Simak ulasan lengkap mengenai aturan dan bacaan niat bayar utang puasa di bulan Syaban dalam teks Arab maupun Latin dalam artikel berikut ini.
Hukum membayar utang puasa Ramadan adalah wajib bagi orang yang membatalkan puasa karena udzur tertentu, seperti sakit haid, atau sedang dalam perjalanan. Mereka diberikan kelonggaran untuk menggantinya di hari-hari lain di luar bulan Ramadan.
Bulan Syaban merupakan batas akhir bagi seorang Muslim untuk melakukan qadha. Dilansir dari laman NU Online, hal ini selaras dengan kebiasaan Ummul Mukminin Aisyah RA.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Aisyah RA berkata bahwa ia memiliki tanggungan utang puasa Ramadan dan ia tidak mampu mengqadhanya kecuali pada bulan Syaban karena kesibukannya melayani Rasulullah SAW.
Hal tersebut menunjukkan bahwa mengganti puasa di akhir waktu atau bulan Syaban diperbolehkan, namun sangat tidak dianjurkan untuk menundanya hingga melewati bulan Ramadan berikutnya.
Kewajiban puasa qadha yang tertuang dalam firman Allah SWT, terdapat pada Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 184:
اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗوَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗوَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya: “(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah ayat 184).
Mengutip buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq oleh Syaikh Sulaiman Ahmad yahya Al-Faifi, puasa qadha tidak wajib dilakukan secara berturut-turut.
Seseorang diperbolehkan mencicil utang puasanya secara terpisah, asalkan jumlah harinya sesuai dengan utang yang dimiliki. Namun, menyegerakan pembayaran utang puasa tetap lebih utama untuk menghindari kelalaian.
Pelaksanaan puasa Qadha pada dasarnya sama dengan puasa Ramadan. Puasa dimulai sejak terbit fajar (waktu subuh) hingga terbenamnya matahari (waktu magrib). Selama berpuasa, seseorang wajib menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa. Berikut tata cara puasa qadha:
Niat merupakan syarat sah dalam menjalankan ibadah puasa. Berbeda dengan puasa sunnah yang niatnya bisa dilakukan setelah terbit fajar, niat puasa Qadha harus dilakukan pada malam hari atau sebelum waktu subuh tiba (tabyitun niyah).
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta’ālā.
Artinya: Aku berniat mengqadha puasa fardu bulan Ramadan esok hari karena Allah ta’ala.
Disunnahkan untuk bersahur sebelum masuk waktu Imsak atau Subuh.
Menahan diri dari makan, minum, melakukan hubungan suami isteri, dan perkara-perkara yang membatalkan puasa bermula dari terbit fajar (Subuh) sehingga terbenam matahari (Maghrib).
Selain itu dalam puasa qadha juga harus mampu menjaga adab, yakni mengelakkan perbuatan yang mengurangkan pahala puasa seperti berbohong, mengumpat, atau marah-marah.
Apabila masuk waktu Maghrib, disunnahkan untuk menyegerakan berbuka. Diperbolehkan membaca doa berbuka puasa yang umum dibaca semasa bulan Ramadan.
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Arab Latin: Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar raahimiin.
Artinya: “Ya Allah, bagi-Mu aku berpuasa dan dengan-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu wahai Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Mengutip dari infoHikmah, tertulis dalam kitab Al Adzkar karya Imam an-Nawawi yang diterjemahkan Ulin Nuha, berbuka puasa qadha juga bisa membaca doa buka puasa berdasarkan hadis sahih berikut:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
Arab Latin: Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.
Artinya: “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.” (HR Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud)
Merujuk pada pendapat mayoritas ulama, Jika seseorang lupa jumlah pasti hari yang ditinggalkan, seseorang hendaknya mengambil jumlah hari yang paling maksimal atau jumlah yang paling meyakinkan agar kewajibannya benar-benar terpenuhi.
Misalnya, jika ragu antara 5 atau 7 hari, maka sebaiknya mengganti sebanyak 7 hari untuk memastikan utang tersebut telah lunas sepenuhnya. Langkah ini diambil guna memastikan kewajiban telah terpenuhi sepenuhnya tanpa ada keraguan yang tersisa.
Menunda pembayaran utang puasa hingga masuk bulan Ramadan berikutnya tanpa alasan yang sah (uzur syar’i) dianggap sebagai sebuah kelalaian.
Menurut mazhab Syafi’i, orang tersebut tetap wajib mengqadha puasanya setelah Ramadan berakhir, namun ditambah dengan kewajiban membayar fidyah (memberi makan orang miskin) sebanyak satu mud (sekitar 675 gram beras) untuk setiap hari yang ditinggalkan.
Membayar utang puasa di bulan Syaban adalah langkah penting untuk membersihkan diri sebelum menyambut Ramadan yang baru. Dengan melunasi kewajiban lama, umat Islam dapat lebih fokus menjalankan ibadah puasa mendatang dengan hati yang tenang.
Yuk infoers segera cek kembali catatan utang puasanya. Selamat mempersiapkan diri dan selamat menjalankan ibadah puasa qadha, infoers! Semoga bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.
Hukum Puasa Qadha Ramadan di Bulan Syaban
Tata Cara Puasa Qadha Ramadan
1. Membaca Niat Puasa Qadha
2. Sahur
3. Menahan Diri dari Hal yang Membatalkan Puasa
4. Berbuka Puasa
Bagaimana Jika Lupa Jumlah Utang Puasa?
Konsekuensi Menunda Qadha hingga Ramadan Berikutnya
Mengutip buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq oleh Syaikh Sulaiman Ahmad yahya Al-Faifi, puasa qadha tidak wajib dilakukan secara berturut-turut.
Seseorang diperbolehkan mencicil utang puasanya secara terpisah, asalkan jumlah harinya sesuai dengan utang yang dimiliki. Namun, menyegerakan pembayaran utang puasa tetap lebih utama untuk menghindari kelalaian.
Pelaksanaan puasa Qadha pada dasarnya sama dengan puasa Ramadan. Puasa dimulai sejak terbit fajar (waktu subuh) hingga terbenamnya matahari (waktu magrib). Selama berpuasa, seseorang wajib menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa. Berikut tata cara puasa qadha:
Niat merupakan syarat sah dalam menjalankan ibadah puasa. Berbeda dengan puasa sunnah yang niatnya bisa dilakukan setelah terbit fajar, niat puasa Qadha harus dilakukan pada malam hari atau sebelum waktu subuh tiba (tabyitun niyah).
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta’ālā.
Artinya: Aku berniat mengqadha puasa fardu bulan Ramadan esok hari karena Allah ta’ala.
Disunnahkan untuk bersahur sebelum masuk waktu Imsak atau Subuh.
Menahan diri dari makan, minum, melakukan hubungan suami isteri, dan perkara-perkara yang membatalkan puasa bermula dari terbit fajar (Subuh) sehingga terbenam matahari (Maghrib).
Selain itu dalam puasa qadha juga harus mampu menjaga adab, yakni mengelakkan perbuatan yang mengurangkan pahala puasa seperti berbohong, mengumpat, atau marah-marah.
Apabila masuk waktu Maghrib, disunnahkan untuk menyegerakan berbuka. Diperbolehkan membaca doa berbuka puasa yang umum dibaca semasa bulan Ramadan.
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Arab Latin: Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar raahimiin.
Artinya: “Ya Allah, bagi-Mu aku berpuasa dan dengan-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu wahai Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Mengutip dari infoHikmah, tertulis dalam kitab Al Adzkar karya Imam an-Nawawi yang diterjemahkan Ulin Nuha, berbuka puasa qadha juga bisa membaca doa buka puasa berdasarkan hadis sahih berikut:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
Arab Latin: Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.
Artinya: “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.” (HR Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud)
Merujuk pada pendapat mayoritas ulama, Jika seseorang lupa jumlah pasti hari yang ditinggalkan, seseorang hendaknya mengambil jumlah hari yang paling maksimal atau jumlah yang paling meyakinkan agar kewajibannya benar-benar terpenuhi.
Misalnya, jika ragu antara 5 atau 7 hari, maka sebaiknya mengganti sebanyak 7 hari untuk memastikan utang tersebut telah lunas sepenuhnya. Langkah ini diambil guna memastikan kewajiban telah terpenuhi sepenuhnya tanpa ada keraguan yang tersisa.
Menunda pembayaran utang puasa hingga masuk bulan Ramadan berikutnya tanpa alasan yang sah (uzur syar’i) dianggap sebagai sebuah kelalaian.
Menurut mazhab Syafi’i, orang tersebut tetap wajib mengqadha puasanya setelah Ramadan berakhir, namun ditambah dengan kewajiban membayar fidyah (memberi makan orang miskin) sebanyak satu mud (sekitar 675 gram beras) untuk setiap hari yang ditinggalkan.
Membayar utang puasa di bulan Syaban adalah langkah penting untuk membersihkan diri sebelum menyambut Ramadan yang baru. Dengan melunasi kewajiban lama, umat Islam dapat lebih fokus menjalankan ibadah puasa mendatang dengan hati yang tenang.
Yuk infoers segera cek kembali catatan utang puasanya. Selamat mempersiapkan diri dan selamat menjalankan ibadah puasa qadha, infoers! Semoga bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.
